Kirab 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, telah menjadi daya tarik bagi banyak orang, terutama anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang untuk mengikuti prosesi tapa bisu yang menjadi bagian dari rangkaian kirab. Salah satu peserta, Evi, dari Madiun, mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir, semakin banyak generasi muda yang ikut prosesi ini, membuktikan bahwa budaya dan generasi muda bisa saling berkolaborasi untuk menghidupkan sebuah tradisi.
Kirab Pusaka Dalem dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, diawali dengan ritual jamasan enam pusaka Mangkunegaran, kemudian diarak oleh para abdi dalem mengelilingi kawasan kota. Ribuan peserta berjalan tanpa alas kaki sambil menjalani tapa bisu, mengelilingi kawasan Ngarsopuro melalui Jalan Diponegoro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, dan Jalan Teuku Umar sebelum kembali ke Pura Mangkunegaran.
Menurut Evi, perkembangan media sosial turut berperan memperkenalkan budaya Jawa kepada kalangan yang lebih luas. Jika dahulu kegiatan budaya cenderung dikenal terbatas oleh masyarakat tertentu, kini informasi mengenai tradisi dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja. "Dengan adanya media sosial, budaya Jawa jadi lebih mudah dikenal. Semua kalangan, semua etnis, semua latar belakang bisa berkumpul dan merayakan kebudayaan bersama," katanya.
Jojo, salah satu peserta asal Kediri, mengaku motivasinya mengikuti Kirab 1 Suro tidak semata karena ingin menyaksikan tradisi dari dekat, tetapi juga untuk melakukan refleksi diri. Ia mengaku tertarik mengikuti tapa bisu sebagai sarana refleksi diri, berjalan dalam keheningan bersama ribuan peserta memberikan ruang untuk merenungkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup.
Kirab 1 Suro menjadi ruang bagi anak muda untuk memperlambat ritme hidup yang sering kali berjalan sangat cepat. Di tengah kesibukan, tekanan pekerjaan, maupun derasnya arus informasi di media sosial, tradisi seperti tapa bisu menawarkan ruang untuk berhenti sejenak dan kembali mendengarkan diri sendiri. Hal ini sejalan dengan tema peringatan 1 Suro tahun ini, yakni "Mulih Pulih", yang mengajak masyarakat untuk pulang kepada diri sendiri sebagai jalan menuju pemulihan.
Faktor biaya yang relatif terjangkau juga menjadi alasan mengapa acara ini menarik bagi anak muda dari luar kota. Andra, peserta asal Jakarta, mengatakan bahwa Solo menawarkan banyak pilihan penginapan dengan harga ramah di kantong serta akses transportasi yang cukup mudah. "Solo itu cukup bersahabat untuk wisatawan. Penginapan banyak yang terjangkau dan makanan juga mudah dicari," katanya.