Ekonomi

BEI Catat Pekan Cemerlang, IHSG Kembali Menembus Level 6.000

Sabtu, 13 Juni 2026, 13:28 WIB 14 views 2 menit baca
Ilustrasi papan pantau saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: dok KabarBursa.com/Desty
Ilustrasi papan pantau saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: dok KabarBursa.com/Desty
Bagikan:

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa selama periode 8 hingga 12 Juni 2026, perdagangan saham mayoritas ditutup dengan hasil positif. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengungkapkan bahwa IHSG mengalami kenaikan sebesar 7,38 persen, sehingga ditutup pada level 6.007,656, meningkat dari posisi 5.594,765 pada pekan sebelumnya.

Kapitalisasi pasar BEI juga menunjukkan pertumbuhan, mencapai Rp10.524 triliun, atau meningkat 7,31 persen dibandingkan dengan Rp9.807 triliun pada pekan lalu. Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat sebesar 4,14 persen menjadi 2,51 juta kali transaksi dari 2,41 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Kautsar menambahkan bahwa rata-rata volume transaksi harian mencapai 36,14 miliar lembar saham, naik 7,46 persen dari 33,63 miliar lembar saham sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan sebesar 7,07 persen menjadi Rp25,06 triliun dari Rp26,97 triliun pada pekan lalu.

Sementara itu, pada hari Jumat, 13 Juni 2026, investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp287,84 miliar, meskipun secara keseluruhan sepanjang tahun 2026, mereka mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp67,344 triliun. Meskipun IHSG telah pulih lebih dari 12 persen dari level terendah tahun ini, masih ada pertanyaan mengenai mengapa investor asing terus menjual saham Indonesia.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mencatat bahwa investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih hampir Rp80 triliun sejak awal tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar belum sepenuhnya didukung oleh kembalinya dana asing. Liza menjelaskan bahwa meskipun IHSG telah rebound, investor asing tetap mencatatkan net sell yang signifikan.

Menurut Liza, kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar lebih banyak didorong oleh investor domestik. Ia juga menilai bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan negara lain, yang menjadi salah satu alasan investor asing enggan kembali. Liza menegaskan bahwa faktor-faktor seperti IPO besar-besaran dan euforia Piala Dunia bukanlah penyebab utama keluarnya dana asing, melainkan lebih kepada tingginya risk premium yang harus dibayar investor global.

Di sisi lain, meskipun terdapat tantangan, Liza mencatat bahwa beberapa faktor yang sebelumnya memicu kepanikan pasar mulai menunjukkan perbaikan. Stabilitas nilai tukar rupiah dan respons yang lebih terkoordinasi dari pemerintah dan pelaku pasar menjadi sinyal positif. Ia juga menambahkan bahwa valuasi pasar saham Indonesia kini kembali berada di area yang menarik secara historis.

Dengan perkembangan ini, meskipun tantangan masih ada, prospek pasar saham Indonesia menunjukkan harapan untuk perbaikan lebih lanjut di masa mendatang.

E

Penulis

Eira Orelia

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait