Ekonomi

BSDE Alokasikan Laba Rp2,54 Triliun untuk Laba Ditahan, Ini Penyebabnya

Sabtu, 20 Juni 2026, 16:10 WIB 33 views 2 menit baca
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BEI: BSDE) menempatkan mayoritas laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. (Foto: Dok. BSD)
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BEI: BSDE) menempatkan mayoritas laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. (Foto: Dok. BSD)
Bagikan:

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) telah memutuskan untuk mengalokasikan mayoritas laba bersih tahun 2025 sebagai laba ditahan. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan dan telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Keputusan ini diambil untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan membiayai pengembangan proyek baru secara mandiri.

Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, menjelaskan bahwa pencatatan sebagian besar laba bersih sebagai laba ditahan adalah langkah strategis. Ia menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan yang ada di sektor properti nasional. Kebijakan ini diambil untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang yang optimal bagi pemegang saham. Hermawan menekankan pentingnya penguatan struktur permodalan melalui laba ditahan untuk mendukung proyek baru dan memperkuat land bank perusahaan.

Rapat yang berlangsung di Green Office Park 9 Tangerang tersebut menyetujui penggunaan laba bersih sebesar Rp2,55 triliun. Pemegang saham sepakat mengalokasikan Rp2,00 miliar dari laba bersih untuk dana cadangan wajib perusahaan. Sisa laba sebesar Rp2,54 triliun resmi dibukukan sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal kerja. Sepanjang tahun 2025, BSDE mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp12,79 triliun dan mengalami kenaikan total aset sebesar 4,27 persen menjadi Rp79,27 triliun.

Hermawan menegaskan bahwa posisi keuangan yang solid menjadi modal utama dalam melanjutkan pertumbuhan. Perusahaan menargetkan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp10,00 triliun untuk tahun 2026, dengan segmen residensial diharapkan menyumbang Rp5,00 triliun dari total target tersebut. Selain itu, segmen komersial dan sektor lainnya juga diharapkan memberikan kontribusi signifikan.

Dalam RUPST yang sama, perusahaan juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk merombak susunan pengurus. Pemegang saham menerima pengunduran diri Muktar Widjaja dari jabatan Presiden Komisaris dan mengangkat Teky Mailoa sebagai pengganti. Rapat ini juga menyetujui perubahan Anggaran Dasar terkait penyesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2025. Manajemen berkomitmen untuk terus memperkuat cadangan kas guna mengamankan peluang bisnis di masa depan.

A

Penulis

Adhe Dharma

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait