Ekonomi

CLEO Adakan Pubex dan RUPS, Fokus pada Penurunan Laba dan Ekspansi Tiga Pabrik Baru

Minggu, 21 Juni 2026, 10:15 WIB 20 views 3 menit baca
Sepanjang 2025, CLEO berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2,83 triliun. (Foto: dok CLEO)
Sepanjang 2025, CLEO berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2,83 triliun. (Foto: dok CLEO)
Bagikan:

PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) akan mengadakan Public Expose Tahunan secara virtual dengan agenda utama memaparkan kinerja keuangan tahun buku 2025 serta perkembangan bisnis yang direncanakan untuk tahun 2026. Meskipun tidak ada keputusan langsung yang diambil dalam agenda ini, seperti pembagian dividen, acara ini diperkirakan akan menjadi momen penting bagi investor untuk memahami penurunan laba yang terjadi sepanjang tahun 2025 dan prospek ekspansi yang sedang dipersiapkan oleh manajemen.

Fokus utama pasar kemungkinan akan tertuju pada kualitas pertumbuhan bisnis CLEO. Sepanjang tahun 2025, perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp2,83 triliun, mengalami pertumbuhan 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut tidak tercermin pada laba bersih, yang tercatat sebesar Rp389,5 miliar, mengalami penurunan 17,8 persen secara tahunan. Penurunan laba ini disebabkan oleh tekanan margin yang membuat pertumbuhan pendapatan tidak dapat diterjemahkan menjadi peningkatan keuntungan.

Di sisi lain, kinerja keuangan pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan perkembangan yang lebih positif. CLEO mencatat pendapatan sebesar Rp774 miliar, meningkat sekitar 15,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp669 miliar. Laba usaha juga mengalami lonjakan menjadi Rp168 miliar, naik dari Rp157 miliar pada kuartal I-2025. Yang menarik, laba bersih berhasil tumbuh menjadi Rp123 miliar dibandingkan Rp117 miliar pada periode yang sama tahun lalu, mencatat kenaikan 5,2 persen yang menunjukkan pemulihan profitabilitas perusahaan setelah tekanan yang dialami sepanjang tahun 2025.

Struktur laporan keuangan menunjukkan perbaikan signifikan dalam efisiensi operasional, dengan margin laba kotor kuartal I-2026 mencapai sekitar 56,7 persen. Laba usaha juga meningkat menjadi Rp168 miliar dari Rp118 miliar pada kuartal sebelumnya. Strategi pengendalian biaya mulai menunjukkan hasil yang lebih baik, dan pasar kini menantikan apakah tren pemulihan margin ini dapat dipertahankan sepanjang tahun 2026.

Selain membahas kinerja, manajemen diharapkan memberikan pembaruan mengenai rencana pembangunan tiga pabrik baru pada semester II-2026. Agenda ini sangat penting, mengingat selama bertahun-tahun CLEO dikenal agresif dalam memperluas jaringan produksi dan distribusi. Saat ini, perusahaan telah memiliki 22 pabrik dan 96 depo logistik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, yang menjadi salah satu keunggulan kompetitif CLEO di industri air minum dalam kemasan (AMDK).

Dari segi profil perusahaan, CLEO memiliki sejarah bisnis yang panjang, dimulai sejak beroperasi secara komersial pada tahun 2003 setelah mengambil alih bisnis air minum dalam kemasan. Perusahaan ini kemudian membangun pabrik pertama di Pandaan, Jawa Timur, dan terus memperluas jangkauan distribusi ke seluruh Indonesia. CLEO resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 5 Mei 2017 dengan penawaran umum perdana sebanyak 450 juta saham.

Walaupun free float CLEO hanya sekitar 12,36 persen, yang tergolong kecil untuk emiten papan utama, perusahaan masih menunjukkan profil fundamental yang sehat. Return on Equity (ROE) pada kuartal I-2026 berada di level 5,06 persen, sementara Return on Assets (ROA) mencapai 3,67 persen. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban bunga juga sangat kuat, dengan rasio cakupan bunga mencapai 25,47 kali, menunjukkan bahwa beban utang masih dalam kendali yang baik.

Dengan demikian, perkembangan selanjutnya dari CLEO akan terus dipantau, terutama terkait dengan upaya pemulihan laba dan rencana ekspansi pabrik baru yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.

I

Penulis

Indriani Atmaja

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait