Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 berpotensi memberikan tekanan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pengusaha Warteg di Jakarta. Ketua Komunitas dan Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, menyatakan bahwa para pengusaha warteg harus memutar otak agar harga makanan tetap terjangkau tanpa kehilangan pelanggan.
Menurut Mukroni, salah satu langkah yang umum dilakukan oleh pengusaha warteg adalah melakukan efisiensi pada porsi lauk pauk serta memanfaatkan jaringan koperasi untuk memperoleh bahan baku dengan harga yang lebih murah. "Untuk menyiasati porsi dan harga agar tetap stabil tanpa mengusir pelanggan, para pengusaha warteg biasanya terpaksa memutar otak, mulai dari memperkecil sedikit ukuran potongan lauk seperti tahu, tempe, atau ayam," ucap Mukroni.
Pengusaha warteg juga harus mencari cara lain dalam membelanjakan bahan baku, misalnya lewat jaringan koperasi dalam jumlah besar agar mendapatkan harga grosir yang lebih miring. Mukroni menilai, pengusaha warteg berada dalam posisi yang cukup rentan karena mereka tidak memiliki ruang yang besar untuk menaikkan harga makanan karena mayoritas konsumennya berasal dari kelompok masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga.
Sebagai salah satu pilar jaring pengaman pangan murah bagi masyarakat perkotaan, para pengusaha warteg menitipkan beberapa harapan besar kepada pemerintah. Mereka berharap pemerintah dapat membantu mereka dalam menghadapi tekanan ini dan memastikan bahwa harga makanan tetap terjangkau bagi masyarakat.