Di Bursa Efek Indonesia, terdapat saham-saham yang jarang dibicarakan, salah satunya adalah PT Indo Kordsa Tbk (BRAM). Emiten ini berfokus pada industri serat sintetis dan kain ban, memproduksi benang nylon dan polyester, serta kain ban yang digunakan sebagai bahan penguat ban premium. Produk BRAM tidak hanya dijual di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke berbagai negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Di Asia Tenggara, BRAM bahkan diakui sebagai salah satu pemasok utama bahan penguat ban premium. Namun, meskipun memiliki bisnis yang berskala internasional, likuiditas saham BRAM terbilang sangat rendah.
Pada perdagangan yang berlangsung pada 8 Juni 2026, saham BRAM ditutup pada harga Rp4.230, mengalami penurunan sebesar 1,63 persen dari penutupan sebelumnya di Rp4.300. Nilai transaksi sepanjang hari hanya mencapai sekitar Rp17,48 juta dengan volume 41 lot dan frekuensi transaksi yang hanya 16 kali. Angka ini tergolong kecil untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar mendekati Rp1,9 triliun. Orderbook juga menunjukkan kondisi yang serupa, dengan total antrean beli hanya 14 lot dan antrean jual sebanyak 160 lot. Di sisi bid tertinggi, hanya terdapat tiga lot pada harga Rp4.210, sementara penawaran tersebar mulai dari Rp4.340 hingga Rp4.810. Hal ini menunjukkan bahwa BRAM lebih sering dipandang sebagai saham untuk investasi jangka panjang daripada untuk perdagangan harian.
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya likuiditas ini adalah struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi. Kordsa Teknik Tekstil A.S., perusahaan asal Turki, menguasai 61,59 persen saham BRAM. Pemegang saham terbesar kedua adalah Endang Lestari Pujiastuti dengan kepemilikan 16,57 persen, diikuti oleh masyarakat non-warkat sebesar 15,98 persen dan PT Risjadson Suryatama dengan 5,61 persen. Dengan demikian, hanya sekitar 15,98 persen saham yang beredar di publik, yang berkontribusi pada rendahnya likuiditas dan pergerakan harga yang tidak seaktif saham-saham di sektor manufaktur lainnya.
Namun, laporan keuangan BRAM menunjukkan perkembangan yang positif. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp626 miliar, meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan Rp689 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih BRAM melonjak menjadi Rp96 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp41 miliar pada kuartal I 2025. Perbaikan ini mengarah pada estimasi laba tahunan sekitar Rp385 miliar, berbalik dari kerugian Rp38 miliar yang tercatat pada 2025. Earnings per share (EPS) juga mengalami perubahan signifikan dari negatif menjadi sekitar 855,65, menandakan pemulihan profitabilitas yang baik.
Dengan kondisi keuangan yang konservatif, BRAM menunjukkan rasio lancar sebesar 2,74 kali dan rasio cepat 1,95 kali, sementara total liabilitas terhadap ekuitas hanya sekitar 0,25 kali. Interest coverage berada di level 5,78 kali, dan Altman Z-Score mencapai 6,89, yang menunjukkan risiko finansial yang relatif rendah. Perusahaan juga mencatat free cash flow positif sekitar Rp241 miliar, memberikan ruang untuk mempertahankan kebijakan dividen yang konsisten.
BRAM dikenal sebagai emiten yang rutin membagikan dividen. Sejak 2017, perusahaan ini hampir setiap tahun memberikan dividen kepada investornya, dengan nominal yang relatif stabil. Pada tahun 2025, RUPS menyetujui pembagian dividen sebesar Rp200 per saham, dengan total nilai sekitar Rp90 miliar, cum date pada 12 Juni 2026 dan pembayaran dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Dengan harga saham saat ini di kisaran Rp4.230, dividend yield BRAM mencapai sekitar 4,73 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 3 persen.
Apakah BRAM menarik untuk diinvestasikan? Hal ini tergantung pada tipe investor. Bagi trader harian, saham ini mungkin kurang ideal karena likuiditas yang rendah dan spread harga yang lebar. Namun, bagi investor jangka panjang, BRAM menawarkan kombinasi yang menarik dengan bisnis yang spesifik, fundamental yang mulai pulih, neraca yang sehat, serta rekam jejak dividen yang konsisten. Mayoritas saham yang dimiliki oleh pemegang saham strategis juga mengurangi volatilitas, menjadikan BRAM lebih sebagai saham dividend play dengan karakter defensif, bukan untuk mengejar kenaikan harga dalam waktu singkat. Di tengah pasar yang dipenuhi oleh saham-saham berfluktuasi tinggi, BRAM menawarkan cerita yang berbeda: meskipun diperdagangkan dengan sepi, perusahaan ini tetap rutin membagikan keuntungan kepada pemegang sahamnya.