JAKARTA - Hasto Kristiyanto, Dosen Tetap Universitas Bung Karno (UBK), mengemukakan bahwa pemikiran geopolitik yang dikembangkan oleh Proklamator RI, Soekarno, tetap relevan sebagai panduan dalam diplomasi luar negeri dan pertahanan Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Hasto dalam kuliah umum yang digelar dalam rangka Ulang Tahun ke-27 UBK di Aula Ir Soekarno, Jakarta, pada Kamis (11/6).
Hasto berpendapat bahwa kerangka berpikir geopolitik Soekarno dapat digunakan oleh Presiden Prabowo Subianto jika ingin menjadikan Indonesia sebagai fasilitator perdamaian, khususnya terkait isu-isu di Timur Tengah. "Jika Presiden Prabowo ingin menjadikan Indonesia sebagai peace facilitator untuk masalah Timur Tengah, maka pemikiran geopolitik Soekarno dapat diterapkan," ujarnya.
Dalam penjelasannya, Hasto menguraikan bahwa pemikiran geopolitik Soekarno mengikuti sebuah siklus yang sistematis, yang dapat digunakan untuk menghadapi berbagai dinamika geopolitik baik di tingkat kawasan maupun global. Pertama, siklus tersebut dimulai dengan merumuskan kepentingan nasional yang jelas. Kedua, melibatkan diri dalam keterlibatan global dengan membangun hukum internasional baru melalui diplomasi luar negeri dan kerja sama internasional. Ketiga, menyoroti aspek diplomasi pertahanan untuk membangun kekuatan penangkal yang efektif.
Hasto menekankan bahwa pendekatan berbasis keilmuan geopolitik ini tidak hanya relevan untuk Timur Tengah, tetapi juga dapat membantu meredakan ketegangan di Semenanjung Korea serta di Selat Taiwan. Ia menegaskan bahwa keterlibatan aktif Indonesia dalam meredakan ketegangan internasional harus tetap berlandaskan pada kepentingan nasional.
Dia juga menyarankan agar Presiden Prabowo mengambil inisiatif untuk menggelar konferensi internasional, seperti yang dilakukan Soekarno saat mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955, untuk mewujudkan perdamaian. Hasto mengingatkan bahwa keberhasilan diplomasi Soekarno didukung oleh perencanaan yang matang, yang ia sebut sebagai seni diplomasi.
Hasto mengekspresikan keprihatinan atas kecenderungan beberapa dekade terakhir yang mengabaikan pemikiran strategis Soekarno dalam kurikulum pendidikan nasional. Ia mengajak UBK untuk menggali kembali pemikiran para pendiri bangsa dalam ruang-ruang ilmiah.