Setelah mengalami penurunan tajam di sesi sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menunjukkan ketahanan dengan ditutup di level 5.999, mencatatkan penguatan hampir 2 persen pada perdagangan yang berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa minat beli di pasar masih ada, meskipun pelaku pasar tetap berhati-hati karena penguatan tersebut dinilai masih dalam fase pemulihan teknikal, bukan merupakan awal dari tren naik yang solid.
Secara umum, sejumlah perusahaan sekuritas melihat peluang penguatan IHSG pada perdagangan hari berikutnya, Jumat, 26 Juni 2026, masih terbuka. Namun, potensi kenaikan diperkirakan terbatas karena investor menunggu kepastian mengenai sentimen global, termasuk arah suku bunga di Amerika Serikat, pergerakan harga minyak dunia, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Dari analisis teknikal, MNC Sekuritas mengamati bahwa rebound yang terjadi merupakan perkembangan positif, dengan IHSG kembali berada di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) dan peningkatan volume transaksi, yang menunjukkan adanya akumulasi beli setelah tekanan jual yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Walaupun demikian, MNC Sekuritas menekankan bahwa risiko koreksi belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan analisis Elliott Wave, posisi IHSG saat ini diperkirakan masih berada dalam fase wave (b) dari wave [iv], yang mengindikasikan bahwa penguatan yang terjadi mungkin hanya bagian dari pola konsolidasi sebelum indeks menguji area support yang lebih rendah. MNC memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk menguat dalam jangka pendek menuju level 6.060 hingga 6.120, namun setelah itu, indeks berpotensi mengalami koreksi kembali ke kisaran 5.723 hingga 5.847. Level support terdekat diidentifikasi pada 5.784 dan 5.594, sementara resistance berikutnya berada di 6.286 dan 6.459.
Phintraco Sekuritas memberikan pandangan yang lebih optimistis, menyatakan bahwa penguatan IHSG kali ini tidak hanya dipicu oleh faktor teknikal, tetapi juga oleh membaiknya beberapa sentimen makroekonomi. Penurunan harga minyak mentah Brent yang mendekati level USD70 per barel dan penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp17.943 per dolar Amerika Serikat menjadi faktor penting. Selain itu, kabar bahwa pemerintah mempertimbangkan tambahan efisiensi anggaran sebesar Rp50 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dipersepsikan positif oleh pasar, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal di tengah tantangan global.
Phintraco memperkirakan IHSG akan bergerak dalam pola sideways dengan kecenderungan positif pada kisaran 5.850 hingga 6.100. Perbedaan utama antara analisis MNC dan Phintraco terletak pada perspektif waktu, di mana MNC lebih fokus pada risiko koreksi jangka menengah, sedangkan Phintraco melihat faktor fundamental jangka pendek yang memberikan peluang stabilisasi pasar. Selama IHSG dapat bertahan di atas area support penting, peluang untuk menguji kembali level psikologis 6.000 hingga 6.100 masih terbuka.
Di tengah kondisi pasar yang selektif, masing-masing sekuritas telah menyiapkan rekomendasi saham yang menarik. MNC Sekuritas merekomendasikan empat saham untuk strategi buy on weakness, di antaranya adalah PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang menunjukkan sinyal pemulihan, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang diperkirakan memasuki fase tren naik, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang memiliki potensi rebound, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang dianggap defensif. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas lebih menyoroti PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang menunjukkan pola bullish engulfing, dan BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dengan pendekatan yang lebih konservatif.
Dengan berbagai analisis dan rekomendasi yang ada, pelaku pasar diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih terinformasi dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.