Perang di Timur Tengah telah berdampak signifikan pada kekayaan beberapa miliarder industri mode dan ritel. Menurut Forbes, kekayaan bersih gabungan dari lima miliarder teratas di industri ini telah menyusut sebesar 35,6 miliar dolar AS atau setara Rp617,23 triliun sejak 1 Maret 2026.
Di urutan pertama, Bernard Arnault, ketua sekaligus CEO LVMH, harus merelakan kekayaannya menyusut 18,7 miliar dolar AS atau setara Rp324,22 triliun. Arnault menaungi grup barang mewah paling berharga di dunia, yang portofolionya mencakup merek-merek seperti Louis Vuitton, Dior, dan Moët Hennessy.
Selain Arnault, terdapat nama Amancio Ortega, pemilik brand Zara, yang kekayaannya juga telah menguap imbas ketegangan geopolitik global. Tiga nama keluarga Walton, yaitu Rob Walton, Jim Walton, dan Alice Walton, juga mengalami hal serupa. Rob Walton, putra sulung Sam Walton, kehilangan kekayaan sebesar 2,9 miliar dolar AS atau setara Rp50,2 triliun.
Kinerja saham LVMH dan Walmart turun signifikan selama periode yang sama. Saham LVMH turun 11 persen, mencapai 570,3 dolar AS pada 16 April 2026, sehingga kapitalisasi pasar menjadi 283,8 miliar dolar AS. Pendapatan LVMH turun 6 persen dari tahun ke tahun menjadi 22 miliar dolar AS terdampak oleh konflik di Timur Tengah.
Saham Walmart berada di angka 124,8 dolar AS pada tanggal 16 April 2026, menunjukkan penurunan 2,4 persen selama periode tersebut di tengah melemahnya ekuitas ritel AS secara lebih luas dan pergeseran tren permintaan konsumen. Dengan demikian, kekayaan keluarga Walton dan Arnault diprediksi akan terus terpengaruh oleh situasi geopolitik yang tidak stabil.