JAKARTA - Arnod Sihite, Ketua Umum Parsadaaan Toga Sihite Sedunia (PTSBS), mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia menilai bahwa kedua program tersebut menggunakan anggaran yang sangat besar di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi baik secara nasional maupun global.
Menurut Arnod, masukan dari masyarakat perlu diperhatikan dengan serius oleh pemerintah, terutama setelah penangkapan Kepala dan Wakil Kepala BGN oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kejadian tersebut semakin memperkuat tuntutan masyarakat untuk mengevaluasi program-program tersebut dan mengalihkan anggarannya ke sektor-sektor yang lebih produktif dan berdampak langsung kepada rakyat. “Bapak Presiden yang kami hormati dan kami banggakan, banyak masukan dari publik agar MBG dievaluasi total,” ujarnya.
Arnod menambahkan bahwa anggaran yang besar sebaiknya dialokasikan untuk program-program yang lebih produktif, seperti layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan pembangunan infrastruktur yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Ia meyakini bahwa langkah ini akan memperkuat dukungan masyarakat terhadap pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan rakyat dan penciptaan lapangan kerja akan memberikan sinyal positif bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia.
“Kami yakin apabila itu dilakukan, ekonomi nasional akan segera tumbuh dan investor tetap memilih Indonesia sebagai tujuan investasi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan itu harus menjadi kekuatan utama bangsa,” tambahnya. Arnod juga menekankan bahwa pajak tidak boleh menjadi satu-satunya sumber pendapatan negara. Pemerintah perlu mengoptimalkan pengelolaan kekayaan alam nasional dengan melibatkan putra-putri terbaik bangsa yang memiliki kemampuan dan integritas.
Ia juga menyoroti dampak situasi global terhadap perekonomian nasional, terutama tingginya ketergantungan pada impor. Arnod meminta pemerintah untuk membuka pasar baru yang lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh konflik internasional. “Situasi global masih sangat mempengaruhi ekonomi kita, terutama impor. Karena itu, pemerintah harus mencari pangsa pasar baru yang tidak berada dalam situasi perang atau konflik,” tegasnya.