PT Bank Negara Indonesia (BNI) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun hingga semester pertama tahun 2026. Pencapaian ini didorong oleh lonjakan kredit yang mencapai 24,4 persen, dengan total kredit mencapai Rp968,5 triliun, serta kualitas aset yang tetap terjaga, yang memperkuat fundamental bisnis perusahaan di tengah tantangan ekonomi global.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat fundamental bisnisnya melalui strategi pertumbuhan yang berfokus pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital. Ia menyatakan, "Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat." Pendekatan ini, lanjutnya, memungkinkan BNI untuk menjaga produktivitas aset dan meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di berbagai segmen.
Putrama juga menambahkan bahwa arah pengembangan bisnis BNI sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang dipimpin oleh Danantara Indonesia, yang berfokus pada penguatan fundamental perusahaan, tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai jangka panjang. Selain itu, transformasi digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan BNI, dengan jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta dan volume transaksi meningkat 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan pencapaian ini, BNI menunjukkan komitmennya untuk terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan di sektor perbankan, serta berupaya untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa mendatang.