Bank investasi global Morgan Stanley telah merevisi proyeksi harga minyak mentah Brent untuk tahun ini dan tahun depan. Penyesuaian ini dilakukan karena aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali normal lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Dalam laporan yang dirilis pada 29 Juni 2026, tim analis Morgan Stanley yang dipimpin oleh Martijn Rats menurunkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi USD75 per barel, dari USD80 per barel sebelumnya. Selain itu, proyeksi harga Brent untuk akhir 2027 juga diturunkan menjadi USD70 per barel, dari estimasi awal USD80 per barel.
Seiring dengan penyesuaian proyeksi harga, Morgan Stanley juga menurunkan rekomendasi terhadap saham-saham sektor energi di Eropa dari kategori menarik menjadi sejalan. Hal ini disebabkan oleh pandangan bahwa prospek kenaikan harga minyak tidak sekuat sebelumnya. Perubahan ini dipicu oleh perkembangan terbaru di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting distribusi minyak global, setelah sempat terganggu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Morgan Stanley mencatat bahwa pada 25 Juni 2026, terdapat 35 kapal tanker minyak dan gas yang melintas keluar melalui Selat Hormuz, jumlah ini berada dalam kisaran normal yakni 30 hingga 40 kapal per hari. Dari total kapal tersebut, terdapat lima Very Large Crude Carrier (VLCC) yang memiliki kapasitas angkut sekitar 10 juta barel minyak mentah. Pada hari yang sama, tercatat juga 15 kapal tanker yang memasuki kawasan tersebut, termasuk lima VLCC lainnya.
Kembalinya aktivitas pengiriman ini berkontribusi pada perubahan proyeksi keseimbangan pasar minyak global. Morgan Stanley menyatakan bahwa risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah kini mulai berkurang, sehingga tekanan terhadap harga minyak juga mereda. Lembaga ini menilai bahwa pasar selama ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu tingginya ekspor minyak dari Amerika Serikat dan lemahnya impor bersih minyak dari China, yang secara signifikan mengimbangi penurunan ekspor minyak melalui jalur laut dari Timur Tengah.
Ketika pengiriman minyak dari Timur Tengah kembali meningkat, pasokan global diperkirakan akan lebih melimpah. Morgan Stanley memperkirakan bahwa kondisi ini akan meningkatkan jumlah kargo minyak yang belum terserap pasar, sehingga surplus pasokan berpotensi semakin besar. Sebelumnya, Morgan Stanley memperkirakan surplus pasar minyak dunia akan mencapai 2 hingga 3 juta barel per hari, namun setelah mempertimbangkan pemulihan aktivitas di Selat Hormuz, proyeksi surplus tersebut direvisi menjadi sekitar 4,8 juta barel per hari pada 2027.
Selain normalisasi distribusi dari Timur Tengah, Morgan Stanley juga mengidentifikasi beberapa faktor lain yang dapat menambah pasokan minyak global, termasuk rencana Uni Emirat Arab untuk meningkatkan produksi minyak setelah keluar dari OPEC, pelonggaran sanksi terhadap Iran, serta produksi minyak Venezuela yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pergerakan harga minyak di pasar internasional mencerminkan pandangan ini, dengan kontrak minyak Brent saat ini diperdagangkan di level USD73,76 per barel, yang lebih rendah dibandingkan harga tertinggi intraday sebesar USD119,50 per barel yang tercatat pada awal Maret. Dengan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang telah kembali ke tingkat normal, surplus pasokan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi prospek harga minyak dalam beberapa tahun ke depan.