Nasional

Ongen Kritik Aksi Mahasiswa Tolak Kenaikan Harga Pertamax

Jumat, 12 Juni 2026, 16:19 WIB 10 views 2 menit baca
Soroti Aksi Tolak Kenaikan Pertamax, Ongen: Mahasiswa Membela Siapa?
Soroti Aksi Tolak Kenaikan Pertamax, Ongen: Mahasiswa Membela Siapa?
Bagikan:

JAKARTA - Yulian Paonganan, yang dikenal sebagai aktivis 98 dan pakar maritim, memberikan kritik terhadap aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax. Ia berpendapat bahwa aksi tersebut mencerminkan pergeseran dalam orientasi gerakan mahasiswa, dari membela masyarakat kecil menjadi memperjuangkan kepentingan kelompok yang lebih mampu secara ekonomi.

Ongen menekankan pentingnya melihat permasalahan kenaikan harga BBM secara objektif. Ia menjelaskan bahwa yang mengalami penyesuaian harga adalah Pertamax, sedangkan Pertalite, yang digunakan oleh mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah, tetap tidak mengalami kenaikan. Menurutnya, fakta ini seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum mahasiswa memutuskan untuk melakukan aksi protes. “Yang naik itu Pertamax, BBM non-subsidi. Yang dipakai rakyat kecil, Pertalite, tidak naik. Kalau mahasiswa demo karena Pertamax naik, lalu yang sedang dibela sebenarnya siapa?” ujarnya saat diwawancarai.

Ongen juga membandingkan karakter gerakan mahasiswa saat ini dengan gerakan pada era 1990-an, di mana mahasiswa turun ke jalan untuk memperjuangkan isu-isu yang langsung mempengaruhi kehidupan masyarakat, seperti krisis ekonomi dan ketidakadilan sosial. Ia mempertanyakan relevansi aksi yang berfokus pada kenaikan harga BBM non-subsidi, yang lebih banyak digunakan oleh kalangan mampu. “Dulu kami mahasiswa turun ke jalan membela rakyat. Sekarang kok ada mahasiswa yang ingin demo membela BBM yang mayoritas digunakan kalangan mampu? Ini yang perlu dijelaskan kepada publik,” tambahnya.

Pernyataan Ongen muncul di tengah polemik mengenai kenaikan harga Pertamax yang kini ditetapkan sebesar Rp16.250 per liter. Pemerintah menyatakan bahwa Pertamax merupakan BBM non-subsidi, sehingga harga ditentukan oleh mekanisme pasar, termasuk faktor harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, pemerintah memastikan bahwa harga Pertalite, Biosolar, dan LPG subsidi 3 kilogram tidak mengalami perubahan, sebagai langkah untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah di tengah fluktuasi harga energi global.

Ongen menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang seharusnya berpihak kepada masyarakat yang paling rentan. Ia mengingatkan agar gerakan mahasiswa tidak terjebak dalam isu yang lebih banyak berdampak pada pengguna BBM non-subsidi. “Kalau yang diperjuangkan adalah rakyat kecil, tentu semua akan mendukung. Tapi kalau yang diperjuangkan adalah BBM non-subsidi yang pengguna utamanya kalangan menengah ke atas, publik berhak bertanya, mahasiswa sedang membela siapa?” tegasnya.

Dengan situasi ini, perkembangan selanjutnya mengenai aksi mahasiswa dan respons pemerintah terhadap isu harga BBM non-subsidi akan menjadi perhatian publik.

J

Penulis

Jaya Abdi

Penulis di Jagad Info

Sumber: jpnn.com jpnn.com

Berita Terkait