Ekonomi

PGAS Menguat Dua Hari Berturut-turut, Apa Artinya untuk Investor?

Rabu, 10 Juni 2026, 19:11 WIB 13 views 2 menit baca
Dua hari berturut-turut di zona hijau, PGAS masih jauh dari kata pulih. (Foto: dok PGAS)
Dua hari berturut-turut di zona hijau, PGAS masih jauh dari kata pulih. (Foto: dok PGAS)
Bagikan:

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan penguatan saham sebesar 3,70 persen pada level Rp1.540 setelah sebelumnya mengalami lonjakan 6,83 persen ke Rp1.485. Dua hari berturut-turut di zona hijau menjadi sinyal positif, meskipun saham ini masih tertekan sekitar 22 persen sejak awal tahun, menjadikannya salah satu emiten BUMN yang paling tertekan.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah kenaikan ini menandakan awal pembalikan arah atau sekadar rebound teknis di tengah sentimen pasar yang masih berat. Dalam sepekan terakhir, harga saham PGAS menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi, dimulai dari level Rp1.825 pada 2 Juni, kemudian turun ke Rp1.720 pada 4 Juni, dan mengalami penurunan tajam sebesar 11,63 persen pada 5 Juni ke Rp1.520. Penurunan berlanjut hingga 8 Juni, di mana saham ditutup pada Rp1.390 sebelum kembali mengalami kenaikan pada 9 dan 10 Juni.

Pada perdagangan 10 Juni, PGAS dibuka di Rp1.485 dan sempat mencapai level tertinggi Rp1.560 sebelum ditutup di Rp1.540. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp90,88 miliar dengan volume mencapai 606,51 juta saham. Struktur orderbook menunjukkan minat beli yang kuat, dengan antrean beli mencapai 141.737 lot, lebih dari tiga kali lipat dari antrean jual yang hanya sekitar 41.762 lot. Hal ini menunjukkan adanya minat akumulasi di bawah harga penutupan, meskipun tekanan jual masih terlihat terbatas.

Namun, tantangan fundamental masih membayangi PGAS. Perusahaan ini menghadapi ketidakpastian dalam kebijakan energi nasional dan kenaikan harga energi yang berdampak pada volume distribusi gas. Pada kuartal pertama 2026, volume distribusi gas tercatat turun sekitar 8 persen secara kuartalan. Manajemen PGAS kini berfokus pada sektor midstream dan downstream, serta mempertimbangkan potensi divestasi aset hulu melalui Saka Energi, meskipun belum ada jadwal resmi yang diumumkan.

PGAS juga terlibat dalam sengketa hukum terkait LNG dengan Guvnor Singapore, yang menyebabkan perusahaan membentuk pencadangan sekitar 55 persen dari total nilai gugatan. Meskipun ada berbagai tantangan, valuasi PGAS saat ini terlihat menarik dengan price earning ratio (PER) sekitar tujuh kali, yang relatif murah dibandingkan rata-rata historis. Selain itu, ada harapan dari dukungan institusi milik negara yang berpotensi melakukan pembelian kembali saham BUMN strategis untuk menjaga stabilitas pasar.

Data kepemilikan saham menunjukkan kondisi yang solid, dengan PT Pertamina (Persero) menguasai 56,964 persen saham PGAS, sementara porsi saham publik stabil di 43,03 persen. Jumlah pemegang saham meningkat menjadi 73.495 investor, menunjukkan bahwa meskipun harga saham mengalami koreksi, minat investor untuk masuk ke dalam saham ini tetap tinggi.

J

Penulis

Jarot Kusna

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait