Di tengah perkembangan kota yang pesat, kota telah menjadi arena visual yang padat dengan pesan gambar, reklame, dan riak unggahan media sosial. Namun, keindahan kota tidak hanya sebatas hiasan luar, melainkan juga lahir dari cerita kehidupan sehari-hari warga. Kota menjadi tempat yang jujur bagi masyarakat untuk menyampaikan perasaan mereka, mencari nafkah, hingga protes ketika merasa ada aturan atau pembangunan yang tidak adil.
Seminar Nasional Seni Rupa "Pusaran Urban 6" yang diadakan oleh FSRD IKJ pada Rabu, 22 Juli 2026, membahas tentang narasi visual kota dan kegelisahan warga dalam konteks seni rupa dan desain. Acara ini mengusung tema "Narasi Visual dan Praktik Estetik di Kota: Perspektif Interdisiplin Seni Rupa dan Desain" dan diikuti oleh 19 pemakalah dari berbagai bidang keilmuan.
Ketua panitia penyelenggara Seminar Nasional Pusaran Urban VI, Bambang Tri Rahadian, menjelaskan bahwa seminar ini berupaya memberikan sudut pandang berharga bahwa estetika warga tidak hanya berbicara tentang keindahan, melainkan juga merekam "estetika negatif" seperti kemacetan, polusi, dan kelelahan urban. "Seminar nasional ini menyampaikan makna tentang kota yang kita tinggali hari ini telah menjelma menjadi ruang hidup yang padat oleh pesan visual hingga terasa saling tumpang-tindih," jelas Bambang.
Keynote Speaker Martin Suryajaya dari Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta mengangkat tema “Estetika Sebagai Tindakan Warga Merawat Kota” dan membahas tentang bagaimana warga berestetika, bagaimana seniman mengestetikakan kota, dan bagaimana warga merawat kota melalui tindakan estetis. "Estetika warga mengakui nilai estetika negatif sebagai data penting adanya indikator sensoris ketidakadilan ruang," jelas Martin Suryajaya.
Seminar ini juga membahas tentang seni mewargakan kota dan bagaimana seni dapat menjadi alat partisipasi, resistensi, dan pertemuan sosial. Dengan demikian, seminar ini membuka ruang luas untuk membedah bagaimana estetika kota diproduksi, dikonsumsi, dikontestasikan, hingga akhirnya disirkulasikan dalam sirkuit kebudayaan.