Ekonomi

Rupiah Diprediksi Melemah, Analis Perkirakan Tembus Rp18.010 per USD

Kamis, 02 Juli 2026, 08:42 WIB 71 views 2 menit baca
Analis memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.010 per USD hari ini di tengah penguatan dolar AS dan defisit neraca perdagangan RI. Foto: Dok. KabarBursa.
Analis memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.010 per USD hari ini di tengah penguatan dolar AS dan defisit neraca perdagangan RI. Foto: Dok. KabarBursa.
Bagikan:

Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Kamis, 2 Juli 2026. Sentimen global dan domestik, seperti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan munculnya defisit neraca perdagangan Indonesia, menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan mata uang Garuda.

Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures, memperkirakan bahwa rupiah akan tetap berada dalam tekanan. Ia menyatakan, "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.950 hingga Rp18.010." Proyeksi ini muncul setelah rupiah ditutup melemah 43 poin pada perdagangan sebelumnya, mencapai level Rp17.950 per dolar AS.

Dari sisi eksternal, penguatan indeks dolar AS dipicu oleh tingginya ketidakpastian terkait negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar masih menunggu kepastian dari pembicaraan tersebut setelah Iran menolak perundingan langsung dengan utusan senior AS dan memilih jalur mediasi teknis. Hal ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik, meskipun produksi minyak mentah AS telah mencapai rekor tertinggi.

Ibrahim menjelaskan bahwa harga minyak sempat mengalami koreksi tajam setelah konflik Iran mereda. Minyak Brent tercatat mengalami penurunan sekitar 38 persen pada kuartal kedua setelah sebelumnya melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama. Pada bulan Juni, harga Brent terkoreksi sekitar 21 persen setelah turun 19 persen pada bulan Mei, seiring meredanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.

Namun, ketidakpastian yang masih menyelimuti negosiasi antara Washington dan Teheran menimbulkan pertanyaan di pasar mengenai seberapa cepat kedua negara dapat menyelesaikan isu-isu yang ada. Selain itu, investor juga mencermati data ketenagakerjaan AS yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan bahwa jumlah lowongan kerja pada bulan Mei meningkat menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Dari dalam negeri, sentimen negatif muncul setelah rilis neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar. Ini menjadi defisit pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Nilai impor Indonesia pada bulan Mei tercatat mencapai USD24,81 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang sebesar USD23,20 miliar.

Ibrahim menambahkan bahwa pelebaran defisit terutama dipicu oleh sektor minyak dan gas yang mencatat defisit USD3,76 miliar. Badan Pusat Statistik juga mencatat bahwa impor migas mencapai USD4,51 miliar, meningkat 70,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen, dengan kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, dan transportasi menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi.

Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan selanjutnya terkait nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi domestik.

J

Penulis

Jarot Kusna

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait