Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah di Level 17.907 Akibat Ekspektasi The Fed dan Inflasi

Selasa, 30 Juni 2026, 17:32 WIB 46 views 3 menit baca
Rupiah menutup Juni dengan pelemahan dan terdampar di level 17.907. (Foto: dok KabarBursa)
Rupiah menutup Juni dengan pelemahan dan terdampar di level 17.907. (Foto: dok KabarBursa)
Bagikan:

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan pada akhir perdagangan bulan Juni 2026, ditutup di level Rp17.907 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 30 Juni 2026. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap kebijakan moneter di Amerika Serikat serta perkembangan ekonomi di dalam negeri.

Menurut data dari Bloomberg, rupiah mengalami pelemahan sebesar 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS. Pelemahan ini menandai akhir perdagangan Juni yang masih dibayangi oleh ketidakpastian di pasar valuta asing domestik.

Pergerakan nilai tukar rupiah ini terjadi seiring dengan penguatan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi dalam tahun ini. Pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS didorong oleh keyakinan pelaku pasar terhadap sikap ketat bank sentral AS dalam kebijakan moneternya. Hal ini terlihat dari hasil pertemuan The Fed pada bulan Juni, di mana beberapa pejabat bank sentral membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan.

Menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada laporan ketenagakerjaan atau Nonfarm Payrolls (NFP) untuk bulan Juni. Data ini menjadi acuan penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja di AS dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga ke depan. Konsensus ekonom memperkirakan adanya penambahan sekitar 114.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran yang diprediksi tetap di 4,3 persen.

Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pelaku pasar. Investor terus memantau dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk pembicaraan yang berlangsung di Doha, yang dianggap penting untuk stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, investor juga mencermati sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis, termasuk data neraca perdagangan Mei. Surplus perdagangan yang menunjukkan tren lebih rendah dibandingkan tahun lalu menjadi perhatian, dengan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus kumulatif sebesar USD5,64 miliar dari Januari hingga April 2026, lebih rendah dari USD10 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, Indonesia juga mengalami defisit transaksi berjalan sekitar USD4 miliar pada kuartal pertama 2026, yang menjadi salah satu faktor penting bagi investor.

Tekanan inflasi domestik juga menjadi perhatian, terutama di wilayah Sumatra yang mencatatkan kenaikan harga lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Berbagai faktor, seperti efisiensi distribusi pangan, perubahan cuaca, dan biaya logistik global, berkontribusi terhadap kondisi ini. Selain itu, pelaku pasar juga memperhatikan implementasi regulasi terkait Danantara yang memberikan perlindungan hukum bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara.

Sementara itu, nilai mata uang Asia lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang melemah 0,26 persen, rupee India turun 0,23 persen, dan dolar Singapura juga mengalami penurunan sebesar 0,18 persen. Di sisi lain, yuan China dan baht Thailand mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,14 persen terhadap dolar AS.

Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, perdagangan rupiah pada hari terakhir Juni berlangsung dalam suasana yang dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat semakin memperkuat posisi dolar AS, sementara pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi Indonesia yang dianggap penting untuk melihat arah perekonomian ke depan.

E

Penulis

Eira Orelia

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait