Ekonomi

Saham Berkapitalisasi Besar Menjadi Sorotan Analis, Perhatikan Detail dan Risikonya

Senin, 06 Juli 2026, 09:08 WIB 75 views 3 menit baca
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) sebagai pilihan investasi pada perdagangan 6-10 Juli 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) sebagai pilihan investasi pada perdagangan 6-10 Juli 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Bagikan:

PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memberikan rekomendasi terkait beberapa saham berkapitalisasi besar sebagai opsi investasi pada periode 6 hingga 10 Juli 2026. Rekomendasi ini muncul di tengah proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan yang hati-hati.

Hari Rachmansyah, analis ekuitas di IPOT, menyatakan bahwa baik dari segi fundamental maupun teknikal, ruang untuk penguatan IHSG masih terbatas. Meskipun terjadi koreksi tipis pada pekan lalu, penurunan nilai transaksi dan arus keluar dana asing secara year to date (ytd) menunjukkan bahwa pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat. "Untuk pekan 6-10 Juli, area support terdekat IHSG berada di 5.800-5.760, dengan support lanjutan di 5.650 jika tekanan pada Rupiah atau sentimen global memburuk," jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa resistance terdekat berada di 5.950, dan area psikologis 6.000-6.050 perlu ditembus dengan volume yang solid dan konfirmasi dari arus masuk asing agar tren pemulihan menjadi lebih valid.

Dalam konteks tersebut, Hari menyarankan investor untuk mengadopsi strategi defensif dalam menyusun portofolio mereka. Ia menekankan pentingnya menghindari aksi averaging down yang agresif, terutama pada saham dengan likuiditas rendah. Sebaliknya, investor disarankan untuk melakukan akumulasi secara bertahap dan memprioritaskan saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki likuiditas tinggi. "Jika Rupiah stabil di bawah Rp17.900 dan arus asing kembali net buy secara konsisten, IHSG berpotensi melanjutkan technical rebound ke 6.000-6.050. Namun, jika Rupiah menembus Rp18.000 dan FOMC minutes menunjukkan nada hawkish, risiko retest di area 5.800-5.650 masih terbuka," tambahnya.

IPOT juga merekomendasikan untuk memperhatikan instrumen pendapatan tetap, terutama obligasi pemerintah seri FR106 dan FR101. Hari menjelaskan bahwa seri FR106 dengan yield to maturity (YTM) sebesar 7,16 persen dapat menjadi pilihan bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi dengan tenor panjang, sementara seri FR101 dengan YTM 7,09 persen cocok untuk investor yang mengutamakan fleksibilitas investasi dengan tenor lebih pendek.

IPOT merekomendasikan tiga saham berkapitalisasi besar yang dinilai memiliki potensi penguatan dalam jangka pendek, yaitu PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Untuk saham INCO, rekomendasi beli pada harga Rp4.580 dengan target harga Rp5.050, sementara stop loss ditetapkan di Rp4.420. Saham AMMN direkomendasikan beli pada harga Rp3.500 dengan target Rp3.800 dan stop loss di Rp3.380. Sedangkan untuk saham TPIA, rekomendasi beli pada harga Rp2.760 dengan target Rp3.050 dan stop loss di Rp2.650.

Pada pekan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penurunan dalam data perdagangan saham untuk periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, melaporkan bahwa IHSG merosot sebesar 0,35 persen, sehingga berada di level 5.875,780. Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami penurunan sebesar 0,14 persen menjadi Rp10.287 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa juga menurun sebesar 16,71 persen, dan rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan sebesar 35,90 persen.

Dengan kondisi pasar yang lesu, perhatian terhadap saham berkapitalisasi besar dan instrumen pendapatan tetap menjadi semakin penting bagi investor dalam menyusun strategi investasi mereka ke depan.

A

Penulis

Ananta Prana

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait