Ekonomi

Saham KLBF Anjlok 31 Persen, Analis Melihat Peluang Pemulihan

Rabu, 24 Juni 2026, 13:51 WIB 23 views 3 menit baca
Ketika rupiah melemah tajam, saham KLBF mengalami koreksi. Sebaliknya, ketika rupiah mulai menguat, saham KLBF menjadi salah satu emiten yang paling cepat melakukan pulih. (Foto: dok KLBF)
Ketika rupiah melemah tajam, saham KLBF mengalami koreksi. Sebaliknya, ketika rupiah mulai menguat, saham KLBF menjadi salah satu emiten yang paling cepat melakukan pulih. (Foto: dok KLBF)
Bagikan:

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengalami penurunan harga saham yang tajam, mencapai 31 persen dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan ini terjadi setelah harga saham KLBF menyentuh level Rp680 pada 23 Juni 2026, yang merupakan dampak dari ketidakpastian akibat konflik Amerika Serikat-Iran. Meskipun demikian, sejumlah analis percaya bahwa perusahaan ini masih memiliki peluang untuk rebound.

Penurunan harga saham KLBF disebabkan oleh sensitivitas bisnis farmasi terhadap dua faktor utama, yaitu harga bahan baku dan nilai tukar. Sebagian besar bahan baku obat diimpor, sehingga ketika nilai tukar rupiah melemah dan harga energi meningkat, biaya produksi pun ikut naik. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran terhadap saham KLBF dalam beberapa pekan terakhir. Analis dari Stockbit menjelaskan bahwa sebelum konflik AS-Iran, KLBF diproyeksikan membukukan laba bersih sekitar Rp3,96 triliun pada 2026, tumbuh 8,1 persen secara tahunan. Namun, setelah terjadinya konflik, proyeksi tersebut harus direvisi.

Dalam skenario dasar, dengan asumsi kurs rupiah mencapai Rp17.450 per dolar AS dan harga minyak Brent naik ke USD82 per barel, laba bersih KLBF diperkirakan turun menjadi Rp3,45 triliun, atau penurunan sekitar 14,1 persen dibandingkan proyeksi awal. Sementara dalam skenario pesimis, jika harga minyak mencapai USD90 per barel dan rupiah melemah ke Rp17.600 per dolar AS, laba bersih KLBF diperkirakan turun menjadi Rp3,14 triliun, atau turun 22,3 persen. Meskipun dampak penurunan ini cukup signifikan, angka tersebut masih lebih ringan dibandingkan dengan penurunan harga saham yang sudah mencapai 31 persen, yang menunjukkan adanya kemungkinan reaksi berlebihan dari pasar.

Situasi saat ini berbeda dengan beberapa pekan lalu, di mana harga minyak global mulai menunjukkan stabilitas dan nilai tukar rupiah berangsur membaik. Hal ini memberikan peluang bagi KLBF untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan skenario terburuk yang dikhawatirkan oleh investor. Dari segi operasional, tekanan utama terletak pada margin laba kotor, yang sebelum konflik diperkirakan mencapai 40,3 persen. Dalam skenario dasar, margin tersebut diperkirakan turun menjadi 37,4 persen, sedangkan pada skenario pesimistis menjadi 36,4 persen. Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut masih dalam rentang yang pernah dialami perusahaan sebelumnya.

Optimisme terhadap pemulihan KLBF tidak hanya berasal dari analisis fundamental, tetapi juga dari pendekatan historis dan teknikal. Sejak 2016, terdapat hubungan kuat antara pergerakan nilai tukar rupiah dan harga saham KLBF. Ketika rupiah melemah, saham KLBF cenderung mengalami koreksi, dan sebaliknya, saat rupiah menguat, saham KLBF menjadi salah satu yang paling cepat pulih. Oleh karena itu, jika tren penguatan rupiah berlanjut, KLBF berpotensi menjadi salah satu saham defensif yang mendapatkan manfaat dari perubahan sentimen tersebut.

Dengan proyeksi laba bersih sekitar Rp3,45 triliun pada 2026, KLBF saat ini diperdagangkan dengan valuasi sekitar 10 kali price to earnings ratio (PER), jauh di bawah rata-rata historis perusahaan. Data konsensus menunjukkan bahwa 27 analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap KLBF, dengan 24 analis merekomendasikan untuk membeli saham ini. Target harga rata-rata analis berada di level Rp1.324 per saham, sementara harga pasar saat ini berada di kisaran Rp770, menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan.

Pergerakan perdagangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tanda-tanda bahwa tekanan jual mulai mereda. Setelah harga saham KLBF anjlok ke Rp680 pada 23 Juni, saham ini langsung memantul dan ditutup naik 11,76 persen dalam sehari. Pada perdagangan 24 Juni, saham ini kembali menguat ke Rp770 dengan volume yang solid. Meskipun belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka panjang, pantulan ini menunjukkan bahwa investor mulai melihat area harga saat ini sebagai zona menarik untuk akumulasi.

Risiko terhadap KLBF tetap ada, terutama jika harga minyak kembali melonjak atau jika rupiah tertekan akibat kebijakan hawkish The Fed. Namun, jika sentimen makro terus membaik, saham ini berpotensi menjadi salah satu kandidat pemulihan yang menarik di sektor kesehatan.

V

Penulis

Vina Maharani

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait