Ekonomi

Sejarah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dari Lahendong hingga Melantai di Bursa Efek Indonesia

Sabtu, 04 Juli 2026, 14:55 WIB 96 views 2 menit baca
Wilayah kerja PGE (Foto: Dok.PGE)
Wilayah kerja PGE (Foto: Dok.PGE)
Bagikan:

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, yang dikenal dengan singkatan PGE, memiliki sejarah yang signifikan dalam pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2006 dengan tujuan untuk mengelola potensi 70 lokasi sumber panas bumi yang telah dieksplorasi oleh Pertamina sejak tahun 1974.

Setelah satu tahun berdiri, PGE meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Area Lahendong Unit II dengan kapasitas 20 Megawatt (MW) di Sulawesi Utara pada tahun 2007. Sejak saat itu, perusahaan terus memperluas kapasitas pembangkitnya di berbagai wilayah. Pada tahun 2008, PGE menambah satu unit PLTP di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang, Jawa Barat, yang beroperasi dengan kapasitas 60 MW, serta meresmikan dua PLTP di WKP Gunung Sibayak-Gunung Sinabung dengan kapasitas 2 x 5 MW untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara.

Pada tahun 2009 dan 2011, PGE melanjutkan ekspansi di Sulawesi Utara dengan meresmikan PLTP Lahendong Unit III dan IV, masing-masing memiliki kapasitas 20 MW. Pada tahun 2012, perusahaan memperluas operasionalnya ke Pulau Sumatera dengan meresmikan PLTP Ulubelu Unit I dan II di Lampung dengan kapasitas 2 x 55 MW. Penguatan kapasitas terus berlanjut hingga tahun 2015 ketika PGE mengoperasikan PLTP Kamojang Unit V dengan kapasitas 35 MW yang menyuplai listrik ke PT PLN (Persero).

Di tahun 2016, PGE memperkuat pasokan listrik di Sulawesi dengan mengoperasikan PLTP Lahendong Unit V dan VI (2 x 20 MW) serta PLTP Ulubelu Unit III di Lampung dengan kapasitas 55 MW. Puncak transformasi PGE terjadi pada 24 Februari 2023, ketika perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham PGEO. Dalam penawaran perdana, saham PGEO dihargai Rp875 dengan total 10,35 miliar saham yang ditawarkan.

Menurut data terbaru, PT Pertamina Power Indonesia menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 68,18 persen, diikuti oleh Masdar Indonesia Solar Holdings RSC dan Pertamina Dana Ventura. Meskipun saham PGEO stagnan di harga Rp875 pada 3 Juli 2026, terdapat pertumbuhan positif dalam jangka pendek dan satu bulan terakhir. Namun, dalam jangka menengah dan panjang, performa saham mengalami penurunan.

Secara keseluruhan, meskipun saham PGEO mencatatkan penurunan signifikan dalam periode satu tahun terakhir, investasi dalam saham ini masih menunjukkan hasil positif dalam jangka panjang tiga tahun terakhir. PGE terus berkomitmen untuk mengembangkan potensi energi panas bumi di Indonesia.

D

Penulis

Dinda Mughni

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait