Ekonomi

Transaksi Asing Pekan Lalu: Rebound atau Koreksi Lanjutan?

Minggu, 28 Juni 2026, 17:19 WIB 39 views 4 menit baca
Data perdagangan pasar reguler periode 22 hingga 26 Juni 2026 menunjukkan pergerakan saham-saham utama bursa sepenuhnya digerakkan oleh adu strategi kedua kelompok ini. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Data perdagangan pasar reguler periode 22 hingga 26 Juni 2026 menunjukkan pergerakan saham-saham utama bursa sepenuhnya digerakkan oleh adu strategi kedua kelompok ini. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Bagikan:

KABARBURSA.COM – Dalam pekan keempat Juni 2026, terjadi persaingan ketat antara trader ritel domestik dan investor institusi asing dalam menguasai likuiditas saham. Data perdagangan dari 22 hingga 26 Juni 2026 menunjukkan bahwa pergerakan saham utama bursa sangat dipengaruhi oleh strategi kedua kelompok ini. Sektor perbankan swasta dan alat berat menjadi fokus akumulasi bagi pelaku pasar yang berusaha mengamankan modal mereka.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) menunjukkan pergerakan positif berkat aliran dana dari pemodal besar. Kedua saham blue chip ini menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian pasar yang tinggi. Pola pembelian selektif ini menunjukkan bahwa investor jangka panjang tetap memilih emiten dengan fundamental yang kuat saat pasar bergejolak. Di sisi lain, trader ritel domestik juga aktif bertransaksi melalui Stockbit Sekuritas Digital (XL), yang mencatatkan total nilai beli bersih mencapai Rp1,1 triliun. XL berhasil mencatatkan nilai pembelian harian sebesar Rp8,1 triliun, sementara nilai penjualan mencapai Rp7,0 triliun, menjaga psikologi pasar dari kepanikan akibat penurunan harga saham.

Namun, saham-saham perbankan milik negara menjadi sasaran aksi ambil untung oleh investor asing. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami penurunan harga akibat aksi jual besar-besaran. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menjadi aktor utama di balik penurunan harga saham bank BUMN, dengan total transaksi jual bersih masing-masing sebesar Rp305,8 miliar untuk BMRI dan Rp214,7 miliar untuk BBRI. Aksi jual ini berkontribusi pada total net sell mingguan AK yang mencapai Rp649,4 miliar.

Kondisi ini semakin diperparah oleh pengosongan aset oleh Maybank Sekuritas Indonesia (ZP), yang mencatatkan total net sell agresif mencapai Rp1,4 triliun. Total nilai penjualan harian ZP mencapai Rp5,4 triliun, sementara nilai pembelian hanya Rp4,0 triliun. Perputaran dana keluar dari ZP dan AK menunjukkan dominasi institusi global dalam mempengaruhi psikologi trading di bursa.

Secara keseluruhan, total volume saham yang diperdagangkan oleh lima broker utama mencapai puluhan miliar lembar. Trader domestik XL memimpin dengan total volume 44,1 miliar lembar saham dan frekuensi harian mencapai 5,0 juta transaksi. Sementara itu, investor asing AK memimpin nilai perputaran uang harian dengan total transaksi sebesar Rp15,9 triliun. Peta pergerakan ini menunjukkan bahwa likuiditas bursa saham domestik saat ini dipengaruhi oleh strategi jangka pendek trader ritel dan visi jangka panjang investor asing.

Akibat benturan transaksi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 4,55 persen dan ditutup pada level 5.896,13, menghapus sebagian penguatan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar domestik. Para pelaku pasar diharapkan memperhatikan transaksi asing pekan lalu untuk memetakan arah indeks ke depan.

Kondisi lesu ini terlihat dari penurunan hampir semua indikator perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan nilai kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp10.302 triliun dari Rp10.788 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian turun hampir 30 persen menjadi Rp17,58 triliun, sementara volume perdagangan harian menyusut 26 persen dan frekuensi transaksi turun hampir 23 persen. Investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp537,25 miliar pada perdagangan 26 Juni 2026, menjadikan akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun 2026 mencapai Rp71,68 triliun.

Tekanan ini semakin terasa karena hampir seluruh sektor saham berakhir di zona merah, kecuali sektor keuangan yang mengalami kenaikan tipis 0,03 persen berkat ketahanan saham BBCA. Secara teknikal, MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini belum sepenuhnya aman dari risiko koreksi harian. Penurunan 1,72 persen pada akhir pekan membuat posisi indeks kembali berada di bawah garis MA20. Dalam struktur Elliott Wave, IHSG diperkirakan masih dalam fase koreksi sebelum membentuk tren naik baru.

Skenario pelemahan ini sejalan dengan pandangan tim analis Phintraco Sekuritas, yang menunjukkan bahwa posisi IHSG kini berada di bawah indikator MA5, MA10, dan MA20, dengan histogram MACD mulai melemah. Indikator Stochastic RSI juga bergerak memasuki area pivot, sehingga membuka peluang IHSG menguji level 5.700-5.800 pada awal pekan. Dalam jangka pendek, indeks diperkirakan hanya memiliki ruang rebound terbatas ke kisaran 5.912-5.937.

Pergerakan harian pada 29 Juni 2026 akan sangat dipengaruhi oleh rilis data makroekonomi domestik, termasuk data PMI Manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, dan tingkat inflasi terbaru. Data-data ini berpotensi menjadi katalis utama bagi pasar untuk melakukan technical rebound atau melanjutkan pelemahan. Antisipasi trader terhadap data fundamental ini akan menentukan arah perputaran modal bursa selanjutnya.

E

Penulis

Eira Orelia

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait