Sosial & Budaya

Anak Perempuan dan Skincare: Fenomena Cosmeticorexia yang Meningkat

Selasa, 09 Juni 2026, 12:41 WIB 12 views 2 menit baca
Anak Perempuan dan Skincare: Fenomena Cosmeticorexia yang Meningkat
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com
Bagikan:

Anak perempuan kini semakin banyak menggunakan skincare dan kosmetik setiap hari untuk mendapatkan kulit yang dianggap sempurna. Fenomena ini menjadi perhatian para ahli dan dermatolog karena dinilai dapat memicu obsesi terhadap penampilan sejak usia dini.

Profesor Giovanni Damiani, dermatolog dari University of Milan, Italia, mengatakan bahwa ia mulai meneliti fenomena ini setelah melihat sejumlah pasien muda menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan terkait skincare. Dalam penelitiannya, anak-anak yang menunjukkan tanda cosmeticorexia diketahui menghabiskan banyak waktu menonton konten skincare di media sosial dan menggunakan hingga 10 produk perawatan kulit setiap hari.

Menurut Damiani, media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya perilaku tersebut. Konten bertema skincare kini banyak beredar di media sosial, mulai dari video get ready with me hingga ulasan produk kecantikan oleh influencer anak. Survei yang dilakukan merek skincare Pai terhadap 1.500 anak usia 9 hingga 12 tahun menemukan hampir setengah responden menggunakan beberapa produk skincare setiap minggu.

Peneliti media sosial dari Cornell University, Brooke Erin Duffy, menilai tren ini menunjukkan perubahan besar dalam cara industri kecantikan memengaruhi anak perempuan. "Perempuan usia 30-an dan 40-an sudah lama menjadi sasaran perusahaan skincare yang menjual gagasan bahwa penuaan adalah masalah yang harus diperbaiki," kata Duffy. "Namun sekarang tekanan yang sama mulai diberikan kepada anak perempuan," lanjutnya.

Apa risiko penggunaan skincare berlebihan pada anak? Dermatolog konsultan Dr. Jean Ayer mengatakan kulit anak sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat baik secara alami. "Ironisnya, mereka sebenarnya sudah memiliki kulit yang sempurna. Saat masih kecil, kondisi kulit berada dalam keadaan terbaiknya," ujar dr. Ayer.

Menurut dia, banyak produk yang populer saat ini dibuat untuk pasar anti-penuaan sehingga tidak dibutuhkan oleh anak-anak. "Pada kondisi terbaik, mereka memang tidak memerlukan produk tersebut. Pada kondisi terburuk, kandungannya justru bisa merusak kulit anak yang masih sensitif," kata dr. Ayer.

Selain risiko fisik, para ahli juga menyoroti dampak psikologis dari fenomena cosmeticorexia. Psikolog Italia Alberto Stefana mengatakan banyak anak mulai membangun harga diri berdasarkan jumlah likes atau komentar yang mereka terima di media sosial. "Anak-anak yang terobsesi dengan skincare cenderung dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di media sosial," kata Stefana.

D

Penulis

Darma Yudhistira

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait