Di beberapa negara bagian Amerika Serikat, terjadi kasus kematian bayi secara mendadak yang disebabkan oleh defisiensi vitamin K. Kasus ini menjadi peringatan bagi banyak orang tua tentang bahaya defisiensi vitamin K. Vitamin K berperan penting dalam pembekuan darah, dan kekurangan vitamin ini bisa memicu perdarahan hebat di dalam maupun luar tubuh.
Menurut MedlinePlus, tubuh membutuhkan vitamin K untuk membuat protein tertentu di hati yang menyebabkan darah membeku. Kasus kematian bayi di AS ini menunjukkan bahwa banyak orang tua menolak injeksi vitamin K yang sebenarnya telah lama digunakan sebagai pencegahan standar. Penolakan ini sering kali muncul karena kekhawatiran berlebihan atau terpengaruh informasi keliru di media sosial.
Bayi yang tidak mendapat suntikan vitamin K memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami perdarahan lambat yang bisa terjadi sejak satu minggu setelah lahir hingga usia 6 bulan. Dalam kondisi ini, darah dapat terkumpul di sekitar otak, sehingga mengganggu aliran oksigen dan memicu kerusakan otak permanen. Data CDC menyebutkan bahwa sekitar 1 dari 5 bayi dengan defisiensi vitamin K dapat meninggal dunia.
Gejala kekurangan vitamin K pada bayi yang perlu diwaspadai antara lain memar, terutama di area kepala dan wajah, mimisan atau perdarahan dari tali pusar, kulit tampak lebih pucat dari biasanya, bagian putih mata tampak menguning setelah usia 3 minggu, tinja berdarah, hitam pekat, atau seperti aspal, muntah darah, rewel berlebihan, kantuk ekstrem, kejang, atau muntah berulang yang bisa menandakan perdarahan di otak.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, bayi harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Penanganan cepat sangat penting karena keterlambatan dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, langkah pencegahan sejak lahir menjadi sangat penting untuk mencegah defisiensi vitamin K pada bayi.