Gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menyebabkan dampak yang signifikan pada sektor pendidikan di daerah tersebut. Menurut data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 253 sekolah di NTT mengalami kerusakan akibat gempa, termasuk 199 sekolah di bawah kewenangan kabupaten dan 54 sekolah di bawah kewenangan provinsi.
Kerusakan tersebut tidak hanya terbatas pada bangunan sekolah, tetapi juga menyebabkan korban jiwa. Tiga orang murid dan satu orang guru tewas di Kabupaten Manggarai, dua murid dan satu guru tewas di Kabupaten Manggarai Timur, serta satu murid tewas di Kabupaten Manggarai. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang keselamatan dan pendidikan siswa di daerah terdampak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama. "Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman," katanya.
Upaya pendataan dan penanganan kerusakan sekolah terus dilakukan oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kemendikdasmen. Sementara itu, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, mengatakan bahwa kondisi warga di sejumlah wilayah terdampak masih diliputi ketakutan akan gempa susulan.
Dalam rangka membantu meringankan beban korban gempa, diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi dengan mengulurkan tangan untuk membantu. Bantuan dapat disalurkan melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT.