Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengungkapkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, fenomena ini dapat berdampak signifikan pada beberapa wilayah di Indonesia.
Wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli-Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.
Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Nino ini fenomenanya terjadi kurang lebih selama 9 sampai 12 bulan, bisa lebih panjang, bisa lebih pendek tergantung berbagai kondisi. "El Nino ini fenomenanya terjadi kurang lebih selama 9 sampai 12 bulan, bisa lebih panjang, bisa lebih pendek tergantung berbagai kondisi, sehingga diperkirakan El Nino itu yang dimulai sejak bulan sekitar April atau Mei, bulan Mei ya, itu akan berakhir di bulan Mei tahun depan," ucapnya.
Faisal juga menegaskan bahwa El Nino tidak berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut. Dia menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan antara El Nino dan musim kemarau untuk menghadapi dampaknya dengan lebih baik.