Pendidikan

Guru Inspiratif di Papua Pegunungan: Mengajar dengan AI dan Mencegah Pernikahan Dini

Kamis, 07 Mei 2026, 09:36 WIB 19 views 2 menit baca
Guru Inspiratif di Papua Pegunungan: Mengajar dengan AI dan Mencegah Pernikahan Dini
Sumber gambar: kompas.com
Bagikan:

Di Papua Pegunungan, rata-rata lama sekolah perempuan hanya mencapai 3,6 tahun, yang berarti sebagian besar belum menyelesaikan pendidikan dasar. Ory Mangiri, seorang guru yang diangkat sebagai ASN pada 2010, berusaha memanfaatkan teknologi untuk mengatasi tantangan ini. Ia menggunakan artificial intelligence (AI) untuk mengajar dan mencegah pernikahan dini di kalangan siswa SD.

Sebelum menggunakan AI, Ory harus berhadapan dengan kondisi tempat kerjanya yang bahkan tak ada sinyal seluler dan listrik. Ia harus menggunakan pesawat kecil jenis Pilatus untuk mencapai sekolah tempat ia mengajar, dengan biaya yang dapat mencapai puluhan juta rupiah untuk sekali jalan. Meskipun demikian, ruang kelas tidak pernah benar-benar sepi, dan murid-murid tetap datang ke sekolah dengan antusias.

Ory juga berjuang melawan pernikahan dini, yang masih menjadi praktik yang lazim di kalangan anak-anak usia sekolah dasar. Ia berdiri di hadapan jemaat di gereja dan menyampaikan pesan untuk memberi kesempatan bagi anak-anak melanjutkan sekolah lebih lama. Setelah hampir delapan tahun mengabdi di pedalaman, Ory dipindahkan ke Kenyam, ibu kota kabupaten, dan melanjutkan pengabdiannya sebagai guru bahasa Inggris di SD Inpres Kenyam, Nduga.

Di sekolah ini, Ory mengikuti pelatihan AI "AI for Educators" yang difasilitasi oleh Biji-Biji Initiative dalam program Microsoft Elevate. Ia mempelajari dasar-dasar kecerdasan buatan bagi pendidik, pendekatan pembelajaran abad ke 21, serta cara memanfaatkan AI secara bertanggung jawab untuk mendukung proses belajar. Ory juga berhasil menyelesaikan uji sertifikasi Microsoft Certified Educator.

Melalui pengalaman tersebut, Ory mulai membawa transformasi digital ke dalam praktik mengajarnya. Ia menggunakan Microsoft Copilot sebagai alat bantu berpikir mulai dari menyusun rencana pembelajaran sesuai durasi dua kali 35 menit, mencari ide aktivitas belajar yang kreatif, hingga menyederhanakan materi agar selaras dengan pemahaman murid. Pendekatan ini akhirnya berbuah manis, dan murid-murid menjadi lebih aktif bertanya terhadap penjelasan yang terasa belum utuh.

E

Penulis

Eira Orelia

Penulis di Jagad Info

Sumber: kompas.com kompas.com

Berita Terkait