Pendidikan

Guru yang Terlupakan: Ironi Kesejahteraan Pendidik di Indonesia

Rabu, 27 Mei 2026, 08:36 WIB 11 views 2 menit baca
Guru yang Terlupakan: Ironi Kesejahteraan Pendidik di Indonesia
Sumber gambar: kompas.com
Bagikan:

Guru di Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam hal kesejahteraan, meskipun mereka merupakan pendidik yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Ironi ini terlihat dari bagaimana negara memperlakukan guru, yang seringkali dianggap hanya penting saat musim kampanye tiba.

Di ruang guru sekolah, kopi sering kali bukan sekadar minuman, melainkan teman untuk menahan lelah, menemani tumpukan administrasi, sekaligus pelarian kecil di tengah hidup yang makin sesak. Namun, belakangan ini, obrolan di ruang guru terasa berbeda, tidak lagi sekadar soal murid yang lucu atau tugas sekolah yang menumpuk, melainkan soal satu hal yang terus menghantui: kapan hidup guru benar-benar dianggap penting oleh negara?

Klarifikasi pemerintah terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kenaikan tunjangan guru mungkin sudah selesai di level birokrasi. Namun, di tingkat bawah, di ruang-ruang kelas sederhana, persoalannya tidak sesederhana itu. Sebab, ketika kabar itu muncul, banyak guru telanjur berharap, ada yang mulai menghitung biaya sekolah anak, ada yang membayangkan utang warung bisa sedikit berkurang, dan ada pula yang sekadar berharap bulan depan hidup tidak terlalu berat.

Ironinya, guru justru hampir selalu menjadi kelompok yang paling ramai dicari setiap musim politik tiba. Saat Pemilu atau Pilkada mendekat, profesi guru mendadak dianggap penting. Mereka dipuji sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dipeluk dalam panggung-panggung kampanye, dan dijanjikan kesejahteraan yang terdengar indah di telinga. Nama guru dipakai untuk membangun citra kepedulian terhadap pendidikan.

Belum lagi, belakangan guru juga harus ikut bertanggung jawab mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Di satu sisi, program itu tentu memiliki tujuan baik demi pemenuhan gizi anak. Namun, di sisi lain, guru kembali ditempatkan sebagai pihak yang harus memastikan semuanya berjalan lancar di lapangan.

Realitas paling menyakitkan sesungguhnya terlihat setelah jam pelajaran selesai. Di berbagai daerah, tidak sedikit guru honorer yang harus menjalani pekerjaan sampingan demi menyambung hidup. Ada yang memulung sampah selepas mengajar, berjualan gorengan di pinggir jalan, menjadi buruh cuci, kuli panggul di pasar, hingga bekerja serabutan apa saja agar dapur tetap mengepul.

Barangkali negara memang tidak bisa membuat semua guru menjadi kaya. Namun, setidaknya negara jangan membiarkan mereka merasa hanya penting saat musim kampanye tiba. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling lantang memuji guru di atas panggung politik, melainkan bangsa yang sungguh-sungguh menjaga martabat para pendidiknya, bahkan ketika sorot kamera telah padam dan pemilu telah usai.

V

Penulis

Vina Maharani

Penulis di Jagad Info

Sumber: kompas.com kompas.com

Berita Terkait