Hamil anggur atau mola hidatidosa adalah kondisi kehamilan yang berisiko dan memerlukan penanganan medis segera. Kondisi ini terjadi akibat pertumbuhan sel-sel trofoblas yang tidak wajar, yang seharusnya berkembang menjadi plasenta yang memberi makan janin, namun dalam kasus mola, mereka justru berubah menjadi sekumpulan kista berisi cairan yang bentuknya menyerupai untaian buah anggur.
Menurut Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Krisantus Desiderius Jebada, terdapat dua kategori utama hamil anggur yang bisa dialami perempuan produktif, yakni hamil anggur komplet dan hamil anggur parsial. Hamil anggur komplet merujuk pada kondisi di mana sel telur yang dibuahi 'kosong' atau tidak memiliki materi genetik dari ibu, sedangkan hamil anggur parsial terjadi ketika materi genetik ibu tetap ada, namun sperma yang membuahi berjumlah dua atau tiga, sehingga terjadi kelebihan kromosom.
Gejala-gejala hamil anggur yang patut diwaspadai antara lain pendarahan vagina, mual dan muntah hebat, keluarnya kista, nyeri panggul, pertumbuhan rahim yang cepat, dan kadar HCG yang sangat tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, hamil anggur dapat berujung pada kanker ganas, preeklamsia, anemia, hingga sepsis atau infeksi darah.
Oleh karena itu, deteksi dini melalui USG di trimester pertama adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Jika terdiagnosa, jaringan harus segera dikeluarkan, dan pasien biasanya disarankan untuk menunda kehamilan kembali dalam jangka waktu tertentu untuk memastikan kadar HCG kembali normal dan memastikan tidak ada jaringan abnormal yang tumbuh kembali.