Ekonomi

Harga Minyak Dunia Turun Drastis Setelah Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026, 13:35 WIB 34 views 2 menit baca
Advertisement
Advertisement
Bagikan:

JAKARTA, iNews.id - Pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (15/6/2026), harga minyak dunia mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan damai yang membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi energi yang sangat penting di dunia.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, turun sebesar 4 persen menjadi 83,81 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di AS merosot 4,7 persen ke level 80,89 dolar AS per barel. Penurunan harga ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik yang telah mengguncang pasar energi global selama beberapa bulan terakhir.

Sebelum kesepakatan damai, Selat Hormuz ditutup secara efektif setelah serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran juga sempat mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut. Selat Hormuz memiliki peran strategis, mengingat jalur ini mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan di kawasan tersebut sebelumnya menyebabkan lonjakan harga energi yang signifikan.

Sebelum konflik, harga minyak Brent berada di kisaran 70 dolar AS per barel, namun ketegangan yang meningkat di Timur Tengah sempat mendorong harga mendekati 120 dolar AS per barel. Meskipun kesepakatan damai telah dicapai, para analis memperingatkan bahwa pemulihan aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz mungkin tidak akan segera terjadi. Andrew Lipow, seorang konsultan energi dari Lipow Oil Associates, menyatakan bahwa jalur pelayaran harus dibersihkan dari ranjau yang dipasang selama konflik.

Dia memperkirakan proses pembersihan ini dapat memakan waktu antara beberapa minggu hingga enam bulan. Selain itu, terdapat antrean panjang kapal tanker yang menunggu untuk melintasi selat tersebut. Lipow juga menambahkan bahwa normalisasi produksi minyak dan proses pemuatan kapal kemungkinan akan memerlukan waktu berminggu-minggu sebelum kembali ke tingkat operasional seperti sebelum perang.

I

Penulis

Indriani Atmaja

Penulis di Jagad Info

Sumber: inews.id inews.id

Berita Terkait