Universitas Pelita Harapan (UPH) telah melantik 4.469 wisudawan dalam Wisuda Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Wisuda kali ini mencerminkan keberagaman latar belakang para lulusan, mulai dari figur publik, keluarga tokoh nasional, hingga aparatur negara.
Salah satu wisudawan yang mencuri perhatian adalah figur publik Mawar Eva de Jongh, S.I.Kom. Ia lulus dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Ilmu Komunikasi. Mawar membuktikan bahwa semangat belajar dapat berjalan seiring dengan karier profesional melalui sistem pembelajaran daring.
Ketertarikannya pada Ilmu Komunikasi berangkat dari relevansi bidang tersebut dengan kehidupan sehari-hari sekaligus dukungannya terhadap perjalanan karier sebagai figur publik. "Selama belajar di UPH, saya bukan hanya belajar Ilmu Komunikasi lebih dalam, tetapi juga merasa berkembang secara personal dan rohani. Saya sangat bersyukur bisa belajar di UPH," ujar Mawar.
Wisuda kali ini juga diikuti oleh Evy Harjono, S.H., lulusan Prodi Hukum S-1 Kelas Karyawan UPH. Ia merupakan istri Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI periode 2011-2014, Dr Amir Syamsudin, S.H., M.H. Kehadiran Evy menjadi contoh bahwa semangat belajar tidak mengenal usia maupun latar belakang.
Rektor UPH Dr (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para mahasiswa menyelesaikan studi hingga diwisuda. Ia menegaskan, pendidikan di UPH tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mempersiapkan lulusan untuk membawa dampak positif bagi masyarakat.
Penghargaan juga diberikan kepada lulusan berprestasi, baik dari sisi akademik maupun nonakademik. Beberapa penerima penghargaan antara lain Dr Donny Setiawan, S.H., M.H., Alexander Panggabean, M.Kom., dan Gabriel Alvaro, M.Kom.
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Dr (H.C.) James T Riady memberikan pesan mengenai tantangan generasi muda di tengah revolusi industri dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, meski generasi masa kini semakin maju secara teknologi, banyak di antara mereka yang rentan menghadapi kebingungan spiritual.