Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal dunia saat menjalani Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di Jakarta. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Novia meninggal akibat tuberkulosis (TBC). Tim Seleksi Pusat Bidang Kesehatan, Letkol Ckm dr Ikhsan, menjelaskan bahwa seluruh peserta sebelumnya telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, mulai dari pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, hingga USG.
Menurut Ikhsan, saat pemeriksaan awal, Novia hanya terdeteksi mengalami infeksi paru-paru, bukan TBC. "Itu dari hasil pemeriksaan itu bukan TBC, tetapi adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus. Jadi kita karena suatu situasi seseorang itu berbeda-beda, kondisi kekuatannya berbeda-beda, bisa saja seseorang itu bisa terkena infeksi dari paru-paru," ucap Ikhsan dalam konferensi pers.
Ikhsan menegaskan bahwa TBC termasuk penyakit yang membuat peserta dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS). Karena itu, peserta dengan TBC seharusnya tidak dapat mengikuti Latsarmil. "TBC adalah penyakit yang tidak lulus atau TMS (Tidak Memenuhi Syarat). Sedangkan yang kemarin kita periksa itu tidak ada yang TBC yang lulus," imbuh dia.
Kematian Novia menjadi perhatian serius bagi Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan pihak terkait. Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan yang lebih akurat dan efektif dalam mencegah kejadian serupa di masa depan.