Harga emas global mencatat peningkatan yang signifikan pada perdagangan Kamis, menyusul keputusan mengejutkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan ini mengubah sentimen pasar dan mengurangi kekhawatiran akan lonjakan harga energi yang dapat memperburuk tekanan inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Di pasar spot, harga emas melonjak 2 persen menjadi USD4.153,71 per ons pada pukul 01.00 WIB. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat mencapai titik terendah sejak akhir November di awal sesi perdagangan, sebelum akhirnya berbalik arah dan mencatat reli yang mengesankan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus justru ditutup melemah 0,5 persen di posisi USD4.114 per ons. Perbedaan pergerakan antara pasar spot dan pasar berjangka ini mencerminkan dinamika ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter dan risiko geopolitik dalam jangka menengah.
Perubahan sentimen pasar dimulai ketika Trump mengumumkan pembatalan operasi militer yang sebelumnya ditujukan ke Iran. Sebelumnya, pemimpin Gedung Putih tersebut mengeluarkan pernyataan keras tentang ancaman serangan lanjutan dan ambisinya untuk menguasai Pulau Kharg, yang merupakan pusat vital ekspor minyak Iran. Trump juga menyatakan bahwa pembahasan akhir mengenai potensi kesepakatan telah mendapat persetujuan dari sejumlah negara yang terlibat dalam dinamika kawasan, termasuk AS, Israel, Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya.
Ryan McKay, analis dari TD Securities, menyatakan bahwa pasar telah menerima sinyal mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan, tetapi hingga saat ini belum ada realisasi konkret. Ia menambahkan bahwa jika kesepakatan tersebut akhirnya terwujud, hal itu dapat menjadi katalis yang mendorong harga emas untuk bangkit lebih jauh dari posisi rendah yang sempat tercipta dalam beberapa waktu terakhir. Sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas mengalami tekanan karena kenaikan harga minyak yang memicu ekspektasi pasar bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk mengendalikan inflasi.
Dalam kondisi normal, emas sering dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, ketika suku bunga tinggi, daya tarik logam mulia ini cenderung menurun karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen keuangan berbunga lainnya. Setelah pengumuman Trump, persepsi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve mulai berubah. Berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember turun menjadi 62 persen dari sebelumnya 69 persen, memberikan ruang bagi harga emas untuk mendapatkan kembali dukungan.
Dari sisi ekonomi domestik AS, data terbaru menunjukkan peningkatan jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan menjadi 229.000 pada pekan yang berakhir 6 Juni, melebihi perkiraan pasar yang sebesar 219.000 klaim. Selain itu, laporan ekonomi lainnya menunjukkan bahwa harga produsen AS pada Mei meningkat lebih tinggi dari estimasi analis, setelah data inflasi konsumen menunjukkan kenaikan tercepat dalam tiga tahun terakhir, terutama karena lonjakan harga produk terkait sektor energi.
Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Pertemuan ini menjadi agenda penting karena merupakan rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level saat ini sembari mengevaluasi perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Tidak hanya emas yang mengalami penguatan; sejumlah logam mulia lainnya juga menunjukkan performa yang mencolok. Harga perak spot melonjak 3,3 persen menjadi USD65,78 per ons, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berbasis logam. Platinum juga mencatat penguatan solid dengan kenaikan 2,6 persen ke level USD1.708,38 per ons, sementara paladium menjadi bintang utama di antara logam mulia dengan kenaikan 4,4 persen, berakhir pada posisi USD1.267,50 per ons, menandai salah satu kenaikan harian paling kuat di antara komoditas utama pada perdagangan tersebut.