Ekonomi

Kenaikan Harga Emas Jelang Kebijakan Moneter Pertama Kevin Warsh dan Ketidakpastian Iran

Kamis, 18 Juni 2026, 06:55 WIB 6 views 3 menit baca
Harga emas naik jelang keputusan pertama Kevin Warsh di The Fed, sementara ketidakpastian hubungan AS-Iran membayangi pasar. Foto: Dok. KabarBursa.
Harga emas naik jelang keputusan pertama Kevin Warsh di The Fed, sementara ketidakpastian hubungan AS-Iran membayangi pasar. Foto: Dok. KabarBursa.
Bagikan:

Harga emas menunjukkan kenaikan pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 WIB, di tengah ketidakpastian menjelang keputusan kebijakan moneter pertama Federal Reserve di bawah pimpinan Kevin Warsh. Selain itu, investor juga terus memantau perkembangan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang belum sepenuhnya final.

Menurut laporan Reuters, harga emas spot meningkat 0,3 persen menjadi USD 4.344,47 per ons, setara dengan sekitar Rp73,86 juta per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga menguat 0,2 persen, mencapai USD 4.364,70 per ons atau sekitar Rp74,20 juta per ons. Pedagang logam independen, Tai Wong, mengungkapkan bahwa kenaikan harga emas disebabkan oleh harapan sebagian investor bahwa Warsh akan mengadopsi kebijakan suku bunga yang lebih lunak.

Wong menyatakan, "Pembeli emas tampaknya bertaruh bahwa Warsh akan bersikap lebih dovish hari ini. Itu membuat harga emas terus bergerak naik meski pasar saham biasa saja, imbal hasil obligasi meningkat, dan dolar AS juga menguat." Pasar kini menantikan pengumuman suku bunga, pernyataan kebijakan, serta proyeksi ekonomi terbaru dari Federal Reserve yang dijadwalkan rilis pada pukul 14.00 waktu setempat. Setelah itu, Warsh, yang menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, akan mengadakan konferensi pers.

Analis Riset Senior FXTM, Lukman Otunuga, menambahkan bahwa pergerakan harga emas dalam jangka pendek sangat bergantung pada level teknikal yang signifikan. "Jika level USD 4.300 per ons atau sekitar Rp73,10 juta mampu bertahan sebagai area dukungan yang kuat, harga berpotensi naik menuju USD 4.350 per ons. Namun, jika menembus ke bawah USD 4.300, tekanan jual bisa membawa harga kembali ke area dukungan USD 4.250 hingga USD 4.200 per ons," jelasnya.

Pekan lalu, harga emas sempat mencapai titik terendah dalam hampir enam bulan, dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang muncul akibat konflik Iran, yang memicu spekulasi bahwa suku bunga AS akan kembali naik. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbunga. Namun, situasi mulai membaik setelah adanya kerangka kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum final dan membuka kemungkinan untuk melanjutkan kampanye pengeboman jika hasil perundingan tidak sesuai harapannya.

Di tengah ketidakpastian ini, ekonom dari Intesa Sanpaolo, Daniela Corsini, memperkirakan bahwa emas dan perak masih berpotensi mengalami titik terendah siklus harga pada akhir 2026 hingga awal 2027. "Dalam skenario dasar kami, harga emas rata-rata dapat diperdagangkan di kisaran USD 4.000 per ons pada akhir tahun, sementara harga perak dapat berada di sekitar USD 60 per ons," ungkap Corsini.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,2 persen menjadi USD 70,30 per ons, sementara platinum turun 1,2 persen ke level USD 1.782,23 per ons dan paladium melemah 0,2 persen menjadi USD 1.349,36 per ons.

E

Penulis

Eira Orelia

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait