Dalam Munas dan Konbes NU 2026 yang berlangsung di Kediri pada Minggu (21/6), dua Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhadjir dan KH Anwar Iskandar, menguraikan peta jalan untuk masa depan serta tata kelola kepemimpinan organisasi Nahdlatul Ulama. Acara ini diadakan di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri.
KH Afifuddin Muhadjir menyampaikan bahwa ada dua prinsip penting yang harus diperhatikan dalam perjalanan NU sebagai organisasi. "Persoalannya adalah hal-hal apa saja di dalam NU ini yang harga mati dan hal-hal apa saja yang bisa beradaptasi," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ada hal-hal tertentu yang bersifat permanen dan tidak dapat diubah, sementara yang lainnya dapat disesuaikan dengan situasi yang berkembang.
Empat hal yang dianggap permanen oleh Kiai Afif mencakup Qanun Asasi, konsep NU sebagai jam'iyyah ijtima'iyyah, komitmen terhadap Pancasila, serta ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah. Dalam konteks mekanisme pemilihan dalam NU, ia mengajak peserta untuk mempertimbangkan apakah hal tersebut termasuk dalam kategori yang tidak dapat diubah atau yang dapat beradaptasi.
Kiai Afif menjelaskan bahwa mekanisme pemilihan adalah sarana untuk mencapai tujuan, sehingga dapat beradaptasi. Ia menekankan pentingnya prinsip musyawarah dalam setiap keputusan, terutama dalam pemilihan pemimpin. "Dalam hal sekecil apa pun, Nabi diperintahkan untuk musyawarah. Apalagi dalam persoalan besar seperti pemilihan pemimpin," tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari tim penentu dalam forum tertinggi NU memerlukan prasyarat yang ketat, sehingga sistem pemilihan harus selalu berfokus pada jalur musyawarah. Mengenai perdebatan terkait penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dan regulasi pemilihan lainnya, Kiai Afif menyerahkan keputusan tersebut kepada forum permusyawaratan resmi.
Kiai Anwar Iskandar menekankan pentingnya mengakomodasi potensi warga NU agar tidak tercecer dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia berharap Munas dan Konbes dapat menghasilkan keputusan yang memungkinkan potensi warga NU terkoordinasi dalam berbagai sektor kebijakan untuk kebaikan masyarakat.
Dengan demikian, Munas dan Konbes NU 2026 diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepemimpinan dan masa depan organisasi Nahdlatul Ulama, serta memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat.