Sutimah, seorang guru di Kudus, memiliki kisah inspiratif yang patut diacungi jempol. Ia rela menempuh jarak 138 km setiap hari untuk mengajar di SDN 7 Getassrabi, Boyolali. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 4 jam, tetapi Sutimah tidak pernah merasa lelah atau putus asa.
Menurut Sutimah, cintanya kepada anak-anak dan panggilan jiwa sebagai guru membuatnya tetap bertahan. Ia mengatakan, "Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental." Sutimah telah mengabdi sebagai guru selama 22 tahun dan telah melewati berbagai tantangan, termasuk menjadi guru honorer dengan gaji yang rendah.
Sutimah dipercaya menjadi wali kelas 1 di SDN 7 Getassrabi, yang merupakan fase penting bagi anak-anak yang baru memasuki dunia sekolah dasar. Ia mengaku bahwa mengajar kelas 1 membutuhkan kesabaran lebih karena anak-anak masih berada dalam masa transisi dari PAUD. Sutimah juga kerap memberikan waktu tambahan secara sukarela agar anak-anak tidak tertinggal pelajaran.
Di tengah pengabdiannya, Sutimah mengaku bersyukur karena perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru terus meningkat. Ia juga mengaku bahwa tambahan penghasilan yang diterimanya tidak hanya membantu kebutuhan keluarganya, tetapi juga menjadi jalan bagi Sutimah untuk berbagi kepada sesama. Ia rutin membantu anak yatim, kaum duafa, hingga murid-murid dari keluarga kurang mampu.
Namun, di balik keteguhan itu, usia dan kondisi kesehatan mulai menjadi tantangan baru bagi Sutimah. Ia berharap suatu hari dapat mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti telah meminta agar persoalan tersebut segera dicarikan solusi. Pemerintah sendiri telah menerbitkan kebijakan untuk membantu pemerataan kebutuhan guru sekaligus memberi ruang bagi penataan yang lebih manusiawi bagi para pendidik.