Indonesia dan Australia telah memperkuat kolaborasi riset melalui simposium yang diselenggarakan di Gedung BRIN, Jakarta Pusat, pada tanggal 12 Mei 2026. Kegiatan ini bertajuk "Indonesia-Australia Science Management and Innovation (SMI) Symposium 2026" dan diselenggarakan atas kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek), serta Pemerintah Australia melalui Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) dan program KONEKSI.
Simposium ini membahas berbagai isu dengan menggeser fokus kemitraan bahwa riset harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat dan bernilai ekonomi. Menurut Minister-Counsellor Human Development and Humanitarian, Kedutaan Besar Australia, Tim Stapleton, pendidikan, sains, dan teknologi adalah pilar utama dari hubungan bilateral Australia-Indonesia dan memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, memungkinkan inovasi, dan membangun modal manusia.
Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendikti saintek, Fauzan Adziman, menilai Indonesia dan Australia sangat unggul dalam menavigasi sifat perkembangan teknologi modern yang sangat disruptif. Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia ingin mengeksplorasi analisis ekonomi dan pengukuran dampak, serta mempertimbangkan penggunaan pendekatan berbasis desain untuk mengantisipasi bagaimana disrupsi yang muncul, khususnya kecerdasan buatan (AI), akan mengubah pekerjaan, keterampilan, dan kinerja organisasi.
Kedua negara juga membahas tentang tinjauan masa depan (foresight) untuk sains, teknologi, dan inovasi Australia maupun Indonesia. Fauzan Adziman mengapresiasi program inovasi Australia yang secara aktif memberdayakan para peneliti untuk menerjemahkan konsep-konsep cemerlang menjadi solusi praktis dan siap digunakan. Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia ingin belajar dari program baja hijau (green steel) Australia-India dan Future Feed yang telah dikembangkan di Australia bersama mitra-mitra.