Sistem pendidikan di Indonesia masih memiliki banyak kelemahan, salah satunya adalah fokus yang terlalu besar pada mengelola pendidikan daripada mendidik. Mengelola pendidikan sekadar memastikan sistem berjalan, anggaran terserap, kurikulum diterapkan, evaluasi dilakukan, dan laporan disusun. Namun, ini belum menandakan bahwa kita telah "mendidik".
Mendidik adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar mengelola pendidikan. Mendidik itu membangkitkan kesadaran, menumbuhkan nalar kritis, dan membentuk karakter. Ini tidak bisa diukur hanya dengan angka-angka kinerja administratif. Ketika terjebak pada logika manajerial semata, pendidikan kita reduksi menjadi urusan tata kelola, bukan transformasi manusia.
Kita terjebak dalam ilusi bahwa pendidikan sudah berjalan hanya karena sistemnya tertata. Kita sibuk merancang regulasi, standar, indikator kinerja, dan sistem pelaporan, tetapi luput menjawab apakah di ruang-ruang kelas benar-benar terjadi proses mendidik? Kita merasa berhasil karena indikator tercapai, sementara kualitas sumber daya manusia tetap stagnan.
Pendidikan tidak bisa diperlakukan seperti proyek pembangunan fisik yang selesai ketika indikator terpenuhi. Pendidikan adalah proses hidup. Ia dinamis, kompleks, dan tidak selalu linear. Jika negara hanya hadir sebagai pengatur administrasi pendidikan, maka yang tumbuh adalah sistem yang rapi tetapi tidak berdaya. Negara harus berani melampaui fungsi administratifnya: menjadi penggerak nilai, penjaga integritas, dan pendorong keberanian berpikir.
Institusi pendidikan tidak menjadi "jongko", melainkan menjadi "taman siswa". Tempat tumbuhnya kesadaran, karakter, dan kebijaksanaan. Dan di taman siswa itulah masa depan yang sesungguhnya dibangun, bukan dari sekadar kelengkapan dokumen administratif, tetapi dari kedalaman kesadaran bahwa mendidik itu berbeda dengan mengelola pendidikan.