Sosial & Budaya

Mengapa Media Sosial Tidak Tepat sebagai Tempat Pelampiasan Emosi

Senin, 10 Agustus 2026, 07:42 WIB 49 views 2 menit baca
Mengapa Media Sosial Tidak Tepat sebagai Tempat Pelampiasan Emosi
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com
Bagikan:

Saat sedang marah, banyak orang yang merasa terdorong untuk segera mengeluarkan apa yang ada di kepala mereka. Media sosial sering menjadi tempat yang paling mudah untuk meluapkan emosi. Namun, melampiaskan kemarahan di media sosial ternyata tidak selalu membuat perasaan menjadi lebih lega.

Menurut Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, media sosial bukan tempat yang tepat untuk melampiaskan amarah. "Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya," kata Ratih.

Meluapkan emosi memang bisa terasa melegakan. Namun, rasa lega tersebut belum tentu berlangsung lama. Jika kemarahan terus dituangkan dalam bentuk unggahan, komentar, atau balasan di media sosial, seseorang justru dapat kembali memikirkan hal yang membuatnya marah. Emosi tersebut kemudian berpotensi terus dipelihara melalui pengulangan pikiran maupun percakapan di ruang digital.

Unggahan yang dibuat ketika seseorang sedang marah juga dapat menimbulkan persoalan baru, seperti muncul konflik dengan orang lain, penyesalan setelah emosi mereda, hingga dampak terhadap reputasi profesional. Terlebih, media sosial membuat sebuah unggahan dapat dilihat dan disebarkan oleh banyak orang dalam waktu singkat.

Ratih mengingatkan, risiko tersebut menjadi semakin besar ketika kemarahan diarahkan kepada orang lain dalam situasi yang memiliki relasi kuasa tidak seimbang. Karena itu, penting untuk mempertimbangkan kembali apakah sesuatu memang perlu dipublikasikan atau cukup diproses secara pribadi.

Ada alasan psikologis yang membuat seseorang terkadang lebih mudah bereaksi secara emosional di ruang digital. Dalam psikologi, kecenderungan seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri ketika berada di ruang digital dikenal sebagai online disinhibition effect.

Ratih menyarankan agar emosi diproses melalui cara yang lebih konstruktif daripada langsung melampiaskannya di media sosial. Salah satunya adalah berbicara dengan orang yang dipercaya. Menceritakan masalah kepada seseorang yang dapat memberikan ruang untuk didengar tanpa menghakimi dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya dirasakan.

Pada akhirnya, memiliki emosi marah merupakan hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana emosi tersebut disalurkan. Media sosial memang dapat menjadi ruang untuk berekspresi, tetapi bukan berarti semua emosi harus dibagikan kepada publik.

A

Penulis

Ananta Prana

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait