Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa dirinya tidak menyukai praktik impor untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Menurutnya, praktik impor memiliki celah korupsi yang dapat timbul di kemudian hari. "Karena saya menteri yang tidak suka impor-impor, aku jujur sajalah. Karena di situ setiap ada impor pasti ada potensi rente di situ," ucap Bahlil dalam acara Energy Forum di Jakarta.
Bahlil menambahkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri dan bauran energi menjadi kunci utama untuk memutus praktik impor yang selama ini dilakukan. Ia juga mengakui bahwa kapasitas produksi dengan permintaan konsumsi memang belum seimbang. Kebutuhan bensin nasional terus meningkat dari 32,9 juta kiloliter (KL) pada 2021 menjadi 42,1 juta KL pada 2030.
Dengan demikian, Bahlil berharap bahwa peningkatan produksi dalam negeri dapat memutus praktik impor yang berisiko korupsi dan rente. Ia berharap bahwa dengan meningkatkan produksi dalam negeri, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan energi sendiri dan mengurangi ketergantungan pada impor.