Parlemen Bahrain melakukan voting untuk mencabut keanggotaan tiga anggota parlemen, yakni Abdulnabi Salman Ahmed, Mamdouh Abbas Al Saleh, dan Mahdi Abdulaziz Al Shuwaikh, pada Jumat (8/5/2026). Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar anggota, yakni 36 orang, mendukung pemecatan tersebut dari total 40 orang yang hadir.
Sebelum voting, usulan pemecatan tersebut dibahas oleh komite urusan legislatif dan hukum. Memorandum pengajuan pemecatan menyebutkan bahwa sikap para anggota parlemen yang membela warga simpatisan Iran terungkap saat diskusi membahas amandemen undang-undang (UU) peradilan. Dukungan mereka itu dianggap tidak sesuai dengan sumpah anggota parlemen serta tugas negara.
Bahrain merupakan salah satu negara Arab paling parah terkena dampak serangan Iran dalam perang terbaru ini. Negara yang telah menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel tersebut menampung pangkalan militer AS. Pemecatan ini menunjukkan bahwa pemerintah Bahrain tidak akan toleran terhadap dukungan terhadap Iran, yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan negara.
Pemecatan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Bahrain akan menghadapi konflik di Timur Tengah dan bagaimana negara ini akan menjaga hubungan diplomatik dengan negara-negara lain di kawasan. Pemecatan anggota parlemen ini dapat menjadi langkah awal bagi pemerintah Bahrain untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas negara.