Nasional

Peran Militer dalam Pertahanan dan Pembangunan di Era Demokrasi

Kamis, 25 Juni 2026, 01:52 WIB 25 views 2 menit baca
Marsda TNI Budhi Achmadi: Pertahanan dan Pembangunan Harus Berjalan Dalam Koridor Demokrasi
Marsda TNI Budhi Achmadi: Pertahanan dan Pembangunan Harus Berjalan Dalam Koridor Demokrasi
Bagikan:

JAKARTA - Dalam menghadapi kompleksitas ancaman global yang semakin meningkat, peran militer tidak lagi hanya terbatas pada fungsi pertahanan negara. Berbagai tantangan modern seperti terorisme, bencana alam, pandemi, serangan siber, serta krisis energi dan pangan, kini menjadi bagian dari ancaman yang harus dihadapi oleh setiap negara. Pandangan ini disampaikan oleh Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi dalam tulisannya yang berjudul “Pertahanan, Pembangunan, dan Koridor Demokrasi”.

Budhi Achmadi menjelaskan bahwa kondisi tersebut mengingatkan kembali pada pemikiran ilmuwan politik Alfred Stepan, khususnya mengenai peran militer dalam konteks pertahanan dan pembangunan. Menurutnya, di negara-negara berkembang, militer sering kali berfungsi sebagai salah satu instrumen negara yang memiliki kemampuan organisasi dan mobilitas tinggi untuk membantu menyelesaikan berbagai masalah nasional, terutama di saat kapasitas institusi sipil terbatas. "Militer di negara berkembang memikul tanggung jawab pertahanan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Namun kontribusi tersebut harus dilaksanakan secara profesional, proporsional, dan tetap berada dalam koridor demokrasi,” ungkap Budhi.

Dalam kajiannya, Stepan membedakan antara konsep old professionalism dan new professionalism. Old professionalism menempatkan militer sebagai penjaga pertahanan eksternal yang fokus pada perang konvensional, sedangkan new professionalism mengakui bahwa ancaman terhadap negara kini jauh lebih luas, mencakup ancaman nonmiliter yang dapat mengganggu stabilitas dan keberlangsungan pembangunan nasional. Budhi menambahkan bahwa praktik ini juga terlihat di negara maju yang melibatkan militer dalam pembangunan dengan pendekatan yang berbeda. Misalnya, Tiongkok memanfaatkan militer untuk pengembangan teknologi strategis dan infrastruktur nasional, sementara Amerika Serikat menghasilkan inovasi seperti internet dan GPS dari investasi sektor pertahanan.

Budhi juga mencatat bahwa militer berkontribusi dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat. Di Amerika Serikat, militer rutin memberikan layanan kesehatan dan pendidikan kepada komunitas terpencil. Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok berperan dalam program pengentasan kemiskinan, sementara di India dan Brasil, militer aktif dalam pembangunan fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan di daerah terpencil. Pengalaman berbagai negara ini menunjukkan bahwa keamanan dan pembangunan adalah dua aspek yang saling terkait.

Budhi menekankan bahwa esensi dari new professionalism di abad ke-21 adalah kehadiran tentara yang tidak hanya kuat dalam menjaga kedaulatan negara, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi.

A

Penulis

Agus Wigati

Penulis di Jagad Info

Sumber: jpnn.com jpnn.com

Berita Terkait