Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) dapat menyerang Iran kapan saja, bahkan di tengah negosiasi. Peringatan ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya di mana AS menyerang Iran saat negosiasi sedang berlangsung. Pezeshkian menegaskan bahwa kepercayaan Iran terhadap AS telah hancur total.
Pezeshkian mengungkapkan hal ini dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Belarusia, Alexander Lukashenko. Meskipun demikian, dia juga menegaskan bahwa dialog dan diplomasi selalu menjadi prioritas utama Iran. "Upaya untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan diplomasi dengan tanggung jawab Iran selalu menjadi agenda," kata Pezeshkian.
Iran dan AS telah menggelar perundingan damai yang dimediasi Pakistan pada 11-12 April lalu, namun tidak membuahkan hasil. Rencana perundingan damai putaran kedua ditolak mentah-mentah oleh Iran karena AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya di Selat Hormuz. Militer AS mencegat kapal tanker maupun kargo yang akan masuk maupun keluar pelabuhan Iran.
Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Juni 2025 di tengah negosiasi nuklir yang saat itu telah berlangsung lima putaran. Kemudian pada 28 Februari 2026, Iran kembali menjadi sasaran serangan AS dan Israel di tengah negosiasi program nuklir Iran. Peristiwa-peristiwa ini memperkuat kepercayaan Iran bahwa AS dapat menyerang kapan saja, bahkan di tengah negosiasi.
Dalam situasi ini, Iran tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan diplomasi. Namun, peringatan Pezeshkian menunjukkan bahwa Iran tetap waspada terhadap kemungkinan serangan AS dan Israel. Perkembangan situasi ini akan terus dipantau dan diikuti dengan seksama.