Iran menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai dengan Amerika Serikat (AS) yang akan ditandatangani pada Jumat (19/6/2026) hanya merupakan langkah awal untuk meredakan ketegangan di antara kedua negara. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, MoU tersebut berfungsi sebagai mekanisme untuk menurunkan eskalasi konflik sekaligus membuka jalan menuju perundingan yang lebih komprehensif.
Baghaei menambahkan bahwa pengalaman masa lalu membuat Iran tetap berhati-hati dalam menyikapi setiap komitmen yang diberikan AS. "Sayangnya, harus diakui bahwa ketidakpercayaan mendalam Iran terhadap AS berasal dari sejarah panjang kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin AS," kata Baghaei. AS harus membuktikan terlebih dahulu bahwa mereka dapat dipercaya, menurut dia, diperlukan komitmen jangka panjang dari Washington untuk memulihkan kepercayaan rakyat Iran.
Iran masih menyimpan trauma mendalam terhadap AS meski kedua negara segera menandatangani kesepakatan damai. Ketidakpercayaan tersebut dipicu oleh pengalaman ketika AS menyerang Iran dua kali, masing-masing pada Juni 2025 dan Februari 2026, setelah sebelumnya terlibat dalam proses perundingan. Pada Senin (15/6/2026), AS dan Iran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang Timur Tengah di semua lini.
Kesepakatan ini juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran energi dan barang setelah berbulan-bulan menjadi pusat konflik yang mengganggu perekonomian global. Dengan demikian, perjanjian damai ini diharapkan dapat meredakan ketegangan di antara kedua negara dan membuka jalan menuju perundingan yang lebih komprehensif.