Universitas Negeri Malang (UM) memutuskan tidak ikut membangun dapur MBG, seperti yang diharapkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M. Pd., menegaskan bahwa peran strategis perguruan tinggi lebih relevan dilakukan melalui riset, pengawasan mutu gizi, dan penguatan edukasi pangan berbasis akademik.
Menurut Prof. Hariyono, perguruan tinggi harus tetap fokus ke fungsi akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan, bukan masuk terlalu jauh ke ranah operasional. Ia berpendapat pengelolaan layanan pemenuhan gizi dalam skala besar sebaiknya dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman dalam operasional terkait.
Prof. Hariyono juga menilai bahwa dukungan yang dapat diberi perguruan tinggi terhadap program MBG lebih tepat jika berbentuk kajian ilmiah dan rekomendasi akademik. "Perguruan tinggi lebih tepat memberikan dukungan dalam bentuk kajian-kajian ilmiah," tegasnya.
Perguruan tinggi dapat berkontribusi pada penguatan riset dan edukasi publik, serta membantu menguji standar higienitas makanan, merumuskan kebutuhan gizi remaja, hingga mengembangkan rekomendasi pangan berbasis potensi lokal. Selain itu, perguruan tinggi dapat membantu membangun kesadaran masyarakat mengenai kedaulatan pangan.