jpnn.com, JAKARTA - Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI, Muhammad Senanatha, menyatakan bahwa generasi muda Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa kolonial. Jika pada masa lalu penjajahan terlihat secara fisik, kini tantangan tersebut muncul dalam bentuk penjajahan atas kesadaran. Dia menegaskan bahwa meskipun teknologi informasi memberikan akses pengetahuan yang luas, hal ini juga menyebabkan munculnya disinformasi, polarisasi sosial, dan manipulasi opini publik.
Dalam pernyataannya di Jakarta, pada hari Minggu (21/6), Senanatha menekankan pentingnya menjaga kesadaran bangsa, yang menurutnya sama pentingnya dengan menjaga kedaulatan negara. Ia mengingatkan bahwa nasionalisme tidak hanya sebatas kecintaan simbolik terhadap tanah air, tetapi juga harus menjadi kesadaran untuk melindungi akal sehat publik, merawat persatuan, dan menjaga ruang kebangsaan dari informasi yang dapat memecah belah masyarakat.
Senanatha juga merujuk pada ajaran Islam yang memberikan panduan dalam menghadapi masalah informasi. Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6 yang mengingatkan umat untuk melakukan tabayyun atau verifikasi informasi. Menurutnya, memverifikasi informasi bukan hanya masalah teknis, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral dan sosial. Namun, di era digital, informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk memeriksanya, sehingga sering kali yang menjadi ukuran bukan kebenaran, melainkan seberapa besar informasi tersebut dapat membangkitkan emosi publik.
Dia menjelaskan bahwa ruang digital kini dipenuhi dengan pertarungan narasi yang lebih mengedepankan sentimen ketimbang fakta. Fenomena ini, menurutnya, dapat dipahami melalui pemikiran Ibn Khaldun mengenai 'ashabiyyah', di mana kekuatan suatu bangsa bergantung pada solidaritas sosial dan kesadaran kolektif. Senanatha mengkhawatirkan bahwa jika masyarakat lebih mudah terpecah oleh informasi yang tidak akurat, maka fondasi kebangsaan akan semakin melemah.
Generasi muda, sebagai pengguna utama teknologi digital, memiliki peran yang sangat penting dalam situasi ini. Mereka bisa menjadi pelopor pencerahan atau justru menjadi korban manipulasi informasi. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis dan literasi digital harus menjadi bagian integral dari pembentukan karakter generasi muda Indonesia. Senanatha menegaskan bahwa peran organisasi kader seperti Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) menjadi semakin relevan dalam konteks ini.
Dia menambahkan bahwa kaderisasi tidak hanya harus menghasilkan organisator, tetapi juga individu yang mampu menjaga akal sehat publik. Kader diharapkan dapat menjadi pelopor dalam literasi, persatuan, dan pendidikan masyarakat di tengah arus informasi yang sering menyesatkan. Menurutnya, tantangan terbesar abad ini adalah perebutan kesadaran, di mana kekuasaan saat ini beroperasi melalui opini dan persepsi.
Senanatha mengingatkan bahwa generasi yang menguasai teknologi tidak cukup, mereka juga perlu memiliki nilai-nilai yang kuat, daya kritis, dan kesadaran kebangsaan. Teknologi tanpa karakter, menurutnya, hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh. Ia membandingkan perjuangan generasi saat ini dengan perjuangan para pendahulu bangsa yang melawan kolonialisme, dengan menekankan bahwa tugas sekarang adalah menjaga kedaulatan kesadaran bangsa.
Dia menegaskan bahwa bangsa yang kehilangan kesadaran akan kehilangan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. Oleh karena itu, nasionalisme harus menemukan makna baru dalam konteks menjaga arah, identitas, dan cita-cita Indonesia di tengah kompleksitas perang informasi saat ini.