Ekonomi

Antam Berpeluang Menuju Rp4.000 di Tengah Sentimen Negatif

Rabu, 10 Juni 2026, 16:10 WIB 11 views 3 menit baca
Antam Berpeluang Menuju Rp4.000 di Tengah Sentimen Negatif
Sejumlah analis mulai melihat ANTM sebagai salah satu peluang value investing yang menarik di Bursa Efek Indonesia. (Foto: dok Antam)
Bagikan:

Dalam beberapa bulan terakhir, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalami tekanan yang cukup besar, membuat banyak investor merasa frustrasi. Saham ini tertekan akibat keluarnya dana asing dan terdepak dari indeks MSCI Small Cap pada rebalancing terbaru. Meskipun sentimen pasar kurang menguntungkan, beberapa analis mulai menilai ANTM sebagai peluang investasi yang menarik di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan terhadap ANTM tampaknya belum sepenuhnya mereda. Pada 3 Juni 2026, harga saham ini sempat merosot 11,82 persen ke level 2.610, sebelum perlahan pulih dan ditutup di level 2.800 pada 10 Juni. Meskipun masih fluktuatif, saham ini menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan dengan beberapa saham komoditas lainnya. Menariknya, ANTM kini diperdagangkan dengan price earning ratio (PER) sekitar tujuh kali, jauh di bawah rata-rata perusahaan tambang logam global. Valuasi yang rendah ini memberikan indikasi bahwa pasar memberikan diskon besar terhadap prospek perusahaan di masa depan.

Jika ANTM kembali mendekati rata-rata global yang telah didiskon di level 10 kali PER, nilai wajarnya diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp4.000 per saham, menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan dibandingkan harga saat ini. Selain itu, ANTM menawarkan potensi dividen yield sekitar 10 hingga 11 persen, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata deposito dan banyak saham di Bursa Efek Indonesia. Kombinasi valuasi murah dan dividen tinggi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang.

Namun, perjalanan ANTM tidak sepenuhnya mulus. Keluarnya saham ini dari indeks MSCI Small Cap telah memicu penjualan besar-besaran oleh investor asing, dengan nilai penjualan diperkirakan mencapai sekitar Rp3,9 triliun sepanjang 2026. Data perdagangan menunjukkan bahwa pada 3 Juni, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp106 miliar, dan pola serupa berlanjut pada hari-hari berikutnya, meskipun harga sempat melonjak hampir 14 persen pada 9 Juni.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga ANTM dalam beberapa hari terakhir lebih didorong oleh investor domestik yang memanfaatkan valuasi murah, bukan oleh kembalinya dana asing. Namun, banyak analis melihat peluang menarik di sini, karena posisi investor asing yang relatif ringan dapat membatasi tekanan jual. Jika MSCI kembali memasukkan ANTM ke dalam indeksnya atau terjadi perubahan sentimen positif terhadap pasar Indonesia, peluang masuknya kembali dana asing dapat menjadi katalis positif yang signifikan.

ANTM tetap menjadi salah satu emiten logam terbesar di Indonesia dengan eksposur terhadap komoditas emas, nikel, dan bauksit, yang penting dalam rantai pasok industri global. Selain itu, keberadaan Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia menjadikan ANTM sebagai proxy investasi pemerintah di sektor sumber daya alam strategis. Meskipun risiko tetap ada, termasuk perubahan kebijakan pertambangan dan penurunan harga jual komoditas akibat perlambatan ekonomi global, banyak investor mulai melihat bahwa sebagian besar risiko tersebut sudah tercermin dalam harga saham saat ini.

I

Penulis

Indriani Atmaja

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait