KABARBURSA.COM - Di Indonesia, tidak banyak direktur utama perusahaan publik yang memulai bisnis dari nol, terutama di usia muda. Vincent Lukito, pendiri dan Direktur Utama PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), berhasil mengembangkan perusahaan yang dimulai dengan enam kolam tambak menjadi salah satu emiten terkemuka di sektor akuakultur. Saat ini, UDNG menarik perhatian pelaku pasar dan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 Juni 2026, dengan agenda penting termasuk pengesahan laporan tahunan dan penggunaan laba bersih.
Vincent Lukito bukanlah eksekutif biasa yang lahir dari keluarga konglomerasi. Lulusan Victoria University, Australia, memulai kariernya sebagai Project Manager di PT Indako Finance and Development. Pada tahun 2019, ia melihat peluang besar dalam budidaya udang Vannamei dan mendirikan PT Agro Bahari Nusantara di Bangka Belitung. Dengan hanya enam kolam budidaya intensif, ia menerapkan pendekatan berbasis sains dan analisis data untuk mengurangi risiko gagal panen akibat penyakit dan perubahan cuaca. Dalam waktu yang singkat, UDNG berkembang menjadi perusahaan dengan 14 kolam budidaya, termasuk kolam super intensif dan berbagai peralatan modern, serta telah memproduksi lebih dari 400 ton udang untuk pasar domestik dan ekspor.
Kesuksesan operasional UDNG mendorong perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia pada 31 Oktober 2023. Vincent menjadi salah satu direktur utama termuda yang membawa perusahaan ke pasar modal sambil tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 22,71 persen. Sejak penawaran umum perdana, saham UDNG mengalami lonjakan harga yang signifikan, mencapai puncaknya di Rp5.700 pada awal Januari 2026, sebelum mengalami koreksi tajam akibat aksi profit taking. Hingga 15 Juni 2026, harga saham berada di level Rp1.410, menunjukkan apresiasi lebih dari 1.300 persen dibandingkan harga IPO.
Dalam perdagangan terakhir, saham UDNG menunjukkan pergerakan yang relatif stabil, meski pelaku pasar masih berhati-hati menjelang hasil RUPS. Vincent Lukito menekankan fokus pada fundamental perusahaan di tengah volatilitas harga saham, dan memastikan bahwa operasional tambak udang berjalan normal. RUPS mendatang diharapkan menjadi momentum bagi investor untuk melihat arah baru UDNG, dengan harapan perusahaan dapat terus berkembang melalui inovasi dan efisiensi produksi. Kisah Vincent Lukito menunjukkan bahwa keberanian dan inovasi dapat mengubah enam kolam sederhana menjadi perusahaan publik bernilai triliunan rupiah, dan pasar kini menantikan babak selanjutnya dari perjalanan UDNG.