Campak sering dianggap sebagai penyakit ringan pada anak, namun di balik gejala awal yang tampak sederhana, campak bisa memicu komplikasi serius bahkan berujung fatal. Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi menegaskan bahwa campak termasuk penyakit yang harus diwaspadai, terutama pada anak-anak.
Menurut Hartono, sekitar 1 dari 20 anak yang terkena campak berisiko mengalami pneumonia, yang menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak balita. Namun, dampaknya tidak berhenti di situ. Campak juga bisa menyerang organ lain dan memicu komplikasi serius, seperti infeksi telinga yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran, kerusakan mata, termasuk pada kornea, hingga radang otak.
Radang otak ini bisa menyebabkan kejang, kelumpuhan, hingga gangguan kognitif. Dalam kasus yang lebih jarang, sekitar 1 dari 1.000 kasus campak dapat berkembang menjadi radang otak, dan sebagian di antaranya meninggalkan gejala sisa jangka panjang. Bahkan, ada komplikasi langka yang bisa muncul bertahun-tahun kemudian, yakni subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), radang otak progresif yang tidak dapat disembuhkan dan berujung fatal.
Imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk mencegah campak dan komplikasinya. Sementara itu, cakupan imunisasi di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Data dalam Pekan Imunisasi Dunia 2026 menunjukkan sekitar 2,8 juta anak di Indonesia belum mendapat imunisasi lengkap. Hartono mengingatkan orang tua untuk kembali memeriksa catatan imunisasi anak, misalnya melalui buku KIA.
Program imunisasi juga mencakup kelompok lain, seperti calon pengantin dan orang dewasa dengan kondisi tertentu, termasuk tenaga kesehatan atau mereka yang memiliki komorbid. Lebih dari sekadar perlindungan individu, imunisasi juga berperan dalam melindungi orang lain di sekitar. Dengan kesadaran dan imunisasi yang tepat, risiko komplikasi berat hingga kematian bisa dicegah sejak awal.