Kesehatan

Bahaya Hipertensi: Dari Strok hingga Kepikunan dan Kebutaan

Kamis, 21 Mei 2026, 11:00 WIB 18 views 2 menit baca
Ilustrasi. Hipertensi tak hanya memicu strok dan penyakit jantung, tapi juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, demensia, hingga gejala mirip Parkinson. (iStockphoto/MIND_AND_I)
Ilustrasi. Hipertensi tak hanya memicu strok dan penyakit jantung, tapi juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, demensia, hingga gejala mirip Parkinson. (iStockphoto/MIND_AND_I)
Bagikan:

Hipertensi atau tekanan darah tinggi telah lama diketahui sebagai penyebab strok dan penyakit jantung. Namun, dampaknya ternyata jauh lebih luas dari yang banyak diketahui masyarakat. Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, Eka Harmeiwati, mengungkap bahwa hipertensi juga dapat memicu gangguan penglihatan, demensia, hingga gejala mirip Parkinson akibat kerusakan pembuluh darah kecil di otak.

"Hipertensi bisa bikin buta. Kerusakan pada pembuluh retina," kata Eka. Ia menjelaskan bahwa hipertensi pada dasarnya merupakan penyakit yang menyerang dinding pembuluh darah. Karena pembuluh darah terdapat di seluruh tubuh, dampaknya pun dapat menyerang banyak organ, termasuk mata dan otak.

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada mata hingga berujung gangguan penglihatan permanen. Selain itu, hipertensi juga disebut dapat berdampak langsung pada fungsi otak meski pasien belum pernah mengalami strok. Kondisi ini terjadi akibat cerebral small vessel disease (CSVD) atau gangguan pada pembuluh darah kecil di otak yang menyebabkan aliran darah terganggu secara perlahan.

Eka juga mengingatkan bahwa hipertensi tak lagi identik dengan usia lanjut. Pada kondisi tertentu, komplikasi hipertensi bahkan bisa muncul pada usia muda. Ia menyebut kasus hipertensi pada usia muda biasanya berkaitan dengan hipertensi sekunder atau kondisi tekanan darah tinggi akibat penyakit lain, seperti gangguan hormon maupun kelainan jantung bawaan.

Oleh karena itu, Eka mengingatkan agar rutin memeriksa tekanan darah sejak usia muda, terutama sebelum menjalani olahraga intensitas berat. "Kalau mau olahraga berat, periksa kesehatan, cek tensi," ujar Eka.

A

Penulis

Agus Wigati

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait