Seorang bocah perempuan berusia 12 tahun di Bandung Barat yang hidup dengan diabetes tipe 1 telah menjadi perhatian luas di media sosial. Lewat unggahan Instagram, sang ibu, Dicka Armitasari, berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa diabetes tipe 1 berbeda dengan diabetes tipe 2 yang lebih umum dikenal.
Dicka menceritakan bahwa putrinya, yang berinisial A, pertama kali didiagnosis mengidap diabetes tipe 1 pada usia 11 tahun. Saat itu, dokter menjelaskan bahwa penyakit yang dialami A merupakan kondisi autoimun, bukan akibat terlalu banyak mengonsumsi gula. "A didiagnosis diabetes tipe satu bulan April tahun 2025 saat usia 11 tahun. Dokter menjelaskan diabetes tipe satu itu autoimun, di mana sistem imun tubuh menyerang pankreas. Jadi bukan karena kebanyakan gula atau keturunan langsung," ujar Dicka.
Sebelum diagnosis ditegakkan, A mengalami sejumlah gejala khas diabetes, seperti sering buang air kecil, mudah merasa haus, dan mengalami penurunan berat badan meski nafsu makannya tetap tinggi. Tak hanya itu, A juga kerap merasa lemas dan memiliki napas yang beraroma buah. Pada awalnya, Dicka mengira kondisi tersebut hanya disebabkan oleh kelelahan biasa.
Diabetes tipe 1 sendiri merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Akibatnya, tubuh tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup untuk mengontrol kadar gula darah. Kondisi ini berbeda dengan diabetes tipe 2 yang umumnya berkaitan dengan resistensi insulin dan sering dikaitkan dengan faktor gaya hidup maupun kondisi metabolik tertentu.
Melalui kisah yang dibagikan di media sosial, Dicka berharap masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai diabetes tipe 1, terutama yang terjadi pada anak-anak. Ia juga ingin menghapus stigma yang masih melekat pada penyandang penyakit tersebut. "Tujuan saya biar makin banyak yang paham diabetes tipe satu itu beda sama diabetes tipe dua. Biar nggak ada lagi anak diabetes tipe satu yang di-bully atau dikucilkan," ungkapnya.
Lebih dari itu, Dicka berharap putrinya dapat tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan tidak merasa sendiri dalam menjalani kondisi yang dimilikinya. "Harapan saya, A tumbuh percaya diri, tahu kalau dia nggak sendirian, dan kelak bisa jadi dokter anak biar bantu teman-teman diabetes tipe satu lainnya," tutup Dicka.